Ilustrasi seorang laki-laki berjalan menjauhi kerumunan di antara lahan subur dan tanah tandus sebagai simbol fitnah Dajjal.

Dari Pulau yang Sunyi hingga Gerbang Ludd

Catatan editorial: Tulisan ini mengikuti kerangka hadis Sunni arus utama. Riwayat dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim menjadi fondasi utama. Riwayat hasan diberi penanda sesuai kedudukannya, kesimpulan hasil penggabungan beberapa hadis dibedakan dari redaksi yang eksplisit, sedangkan bagian yang tidak dijelaskan oleh sumber dibiarkan tetap tidak diketahui.

Prolog: Peringatan yang Melintasi Zaman

Setiap nabi diutus kepada masyarakat yang berbeda. Mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda, hidup di tengah kebudayaan dan kekuasaan yang berbeda, serta berhadapan dengan bentuk kesesatan yang tidak selalu sama. Ada nabi yang berdiri di hadapan penguasa yang meninggikan dirinya melampaui batas manusia. Ada yang menghadapi masyarakat yang menyembah benda-benda ciptaan. Ada pula yang menyeru manusia yang telah menjadikan kekayaan, keturunan, atau kekuatan sebagai ukuran kebenaran.

Namun di antara berbagai peringatan yang disampaikan para nabi, terdapat satu sosok yang namanya terus disebut melintasi zaman: al-Masih ad-Dajjal.

Rasulullah ﷺ menerangkan bahwa tidak ada seorang nabi pun yang diutus tanpa memperingatkan umatnya mengenai pendusta bermata cacat itu. Nabi Muhammad ﷺ kemudian memberi umatnya tanda yang sangat sederhana, tetapi menentukan: Dajjal memiliki cacat pada matanya, sedangkan Allah tidak memiliki kekurangan seperti itu. Pada wajah Dajjal juga terdapat tulisan yang menunjukkan kekafirannya.[1]

Peringatan tersebut tidak diberikan karena Dajjal akan datang dalam bentuk keburukan yang sejak awal mudah dikenali dan dijauhi semua orang. Bila ia hanya membawa kehancuran, kekejaman, serta ancaman yang terbuka, penolakannya mungkin jauh lebih mudah.

Fitnahnya menjadi luar biasa besar karena ia tidak hanya datang membawa ketakutan. Ia juga membawa sesuatu yang tampak seperti pertolongan.

Ia tidak hanya mengancam manusia dengan kesulitan, tetapi menawarkan kemakmuran. Ia tidak hanya menakut-nakuti dengan kematian, tetapi menampilkan sesuatu yang menyerupai kemampuan menghidupkan kembali. Ia tidak hanya mengajak manusia kepada kesesatan melalui kata-kata, tetapi menghadirkan pengalaman yang dapat membuat kebohongannya terlihat nyata di hadapan mata.

Dalam sejumlah riwayat sahih, Dajjal digambarkan membawa sesuatu yang tampak seperti surga dan neraka, atau dua aliran yang menyerupai air dan api. Namun hakikatnya berlawanan dengan apa yang terlihat. Apa yang tampak menyelamatkan dapat membinasakan, sedangkan apa yang tampak sebagai api justru menjadi kesejukan bagi orang yang berpegang pada petunjuk Nabi ﷺ.[2]

Di sinilah kata Dajjal menemukan maknanya yang lebih dalam. Ia bukan sekadar pembohong yang mengucapkan satu berita palsu. Ia adalah pendusta yang menutupi hakikat dengan penampilan lain, sampai manusia dapat mengira kebinasaan sebagai keselamatan dan menganggap seorang makhluk memiliki sifat-sifat Tuhan.

Mengapa Fitnahnya Begitu Besar?

Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa sejak penciptaan Adam hingga datangnya Hari Kiamat tidak ada makhluk yang menimbulkan fitnah lebih besar daripada Dajjal.[1]

Besarnya fitnah itu bukan hanya terletak pada luas wilayah yang dilaluinya atau banyaknya manusia yang mengikutinya. Ia menjadi sangat berat karena menyentuh kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia: makanan, air, keamanan, harta, rasa takut, dan keselamatan keluarga.

Dajjal mendatangi manusia bukan hanya ketika mereka sedang mempertimbangkan sebuah ajaran teologis. Ia datang ketika tanah dapat menjadi kering, ternak kehilangan hasilnya, dan keluarga menghadapi kekurangan. Ia membuat manusia tidak hanya bertanya apakah pengakuannya benar, tetapi juga apa yang akan terjadi kepada orang-orang yang mereka cintai bila mereka menolaknya.

Ketika kebenaran hanya menuntut persetujuan di dalam pikiran, seseorang mungkin merasa mudah mempertahankannya. Namun ketika kebenaran harus dibayar dengan kelaparan, kehilangan, ketakutan, atau ancaman kematian, manusia mulai mengetahui seberapa dalam keyakinannya benar-benar berakar.

Karena itu, para pengikut Dajjal tidak harus seluruhnya terdiri atas orang yang sejak awal mencintai kejahatan. Sebagian mungkin mengikutinya karena kekaguman. Sebagian karena ketakutan. Sebagian karena masyarakat di sekeliling mereka telah lebih dahulu menyerah. Sebagian karena membutuhkan makanan dan rasa aman. Sebagian lainnya mungkin mendatanginya hanya untuk melihat atau menguji dirinya sendiri, lalu mendapati bahwa fitnah yang dihadapi jauh lebih berat daripada yang pernah dibayangkan.

Kebohongan yang paling berbahaya tidak selalu menawarkan keburukan sebagai keburukan. Kadang-kadang ia menawarkan makanan, keteraturan, kemakmuran, dan harapan—kemudian meminta manusia membayar semuanya dengan kebenaran.

Makhluk yang Menuntut Hak Tuhan

Meskipun fitnahnya begitu besar, Dajjal tetaplah seorang manusia.

Ia mempunyai tubuh. Tubuhnya menempati ruang. Ia datang dari suatu arah, berpindah dari satu tempat menuju tempat lain, dan tidak dapat memasuki wilayah tertentu. Ia mempunyai kekurangan yang terlihat. Perjalanannya memiliki batas, dan kehidupannya akan berakhir.

Rasulullah ﷺ mengingatkan umat agar tidak membiarkan berbagai peristiwa luar biasa yang menyertai Dajjal menghapus kenyataan sederhana tersebut. Allah tidak bermata cacat, sedangkan Dajjal membawa cacat yang jelas pada tubuhnya. Pada wajahnya terdapat tulisan kekafiran yang dapat dibaca oleh orang beriman.[1]

Petunjuk itu mengembalikan manusia kepada dasar tauhid: makhluk tetaplah makhluk, betapa pun banyak bagian dunia yang tampak bergerak setelah perintahnya.

Hujan tidak menjadikannya Tuhan. Tanaman yang tumbuh tidak menjadikannya pencipta. Kekayaan yang keluar dari bumi tidak menjadikannya pemilik bumi. Bahkan bila seseorang yang dibunuhnya kembali berdiri, peristiwa tersebut tidak menghapus keterbatasan pada tubuh Dajjal.

Ia meminta manusia melihat pertunjukan, tetapi melupakan siapa yang mempertunjukkannya. Ia menginginkan hujan menjadi saksi baginya, sementara cacat pada tubuhnya diabaikan. Ia ingin manusia menyebutnya Tuhan karena alam tampak mengikuti seruannya, meskipun dirinya sendiri tidak mampu menghilangkan kekurangan dari tubuhnya.

Di sinilah fitnah Dajjal menjadi ujian tauhid yang sangat tajam. Tauhid bukan hanya kemampuan mengucapkan bahwa Allah itu satu ketika kehidupan berjalan tenang. Tauhid adalah kemampuan mempertahankan kebenaran tersebut ketika seorang makhluk berdiri di hadapan manusia dengan kekuasaan, pengikut, kemakmuran, serta peristiwa-peristiwa yang melampaui pengalaman biasa.

Orang beriman tidak diminta menyangkal bahwa ia melihat sesuatu yang luar biasa. Ia diminta menolak kesimpulan yang salah dari apa yang dilihatnya.

Peristiwa luar biasa tidak otomatis membuktikan ketuhanan. Kekuasaan tidak menghapus kemakhlukan. Keuntungan duniawi tidak mengubah kebohongan menjadi kebenaran.

Jauh sebelum manusia menyaksikan semua itu, Dajjal berada dalam keadaan yang sangat berbeda.

Di suatu tempat yang tidak dapat ditunjuk dengan pasti pada peta, di sebuah pulau yang tidak disebutkan namanya, seorang laki-laki ditemukan dalam belenggu. Bukan dunia yang menunggu perintahnya. Dialah yang menunggu izin untuk keluar.

I. Laki-Laki dalam Belenggu

Pelayaran Tamim ad-Dari

Kisah pulau Dajjal sampai kepada umat melalui Fatimah binti Qais رضي الله عنها. Ia menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ suatu hari meminta para sahabat tetap berada di tempat mereka setelah salat berjamaah. Beliau kemudian menyampaikan pengalaman Tamim ad-Dari, seorang laki-laki yang sebelumnya beragama Kristen lalu memeluk Islam.

Pengalaman Tamim menarik perhatian Rasulullah ﷺ karena sesuai dengan penjelasan yang telah beliau sampaikan sebelumnya mengenai Dajjal. Kesaksian Tamim bukanlah sumber pertama pengetahuan Nabi ﷺ mengenai sosok tersebut. Ia merupakan pengalaman manusia yang menguatkan kabar yang telah disampaikan melalui kenabian.[3]

Tamim menceritakan bahwa ia berlayar bersama tiga puluh laki-laki dari kabilah Lakhm dan Judham. Gelombang mempermainkan kapal mereka selama satu bulan, hingga akhirnya mereka mencapai sebuah pulau menjelang matahari terbenam. Mereka turun menggunakan perahu-perahu kecil dan memasuki daratan yang sama sekali tidak mereka kenal.

Hadis tidak mengisahkan badai petir, tiang kapal yang patah, atau awak kapal yang meninggal. Ia hanya memberi satu keadaan yang sudah cukup menggambarkan hilangnya kendali manusia: selama satu bulan, laut membawa mereka ke arah yang tidak mereka tentukan sendiri.

Mereka tidak berangkat untuk mencari Dajjal. Mereka tidak menyelenggarakan ekspedisi akhir zaman atau berusaha menemukan sebuah pulau rahasia. Mereka hanyalah sekelompok pelaut yang tersesat, kemudian mendapati daratan setelah lama dipermainkan gelombang.

Namun perjalanan yang tampak seperti kecelakaan arah itu membawa mereka kepada salah satu kesaksian paling aneh dan penting dalam riwayat akhir zaman.

Al-Jassasah dan Bangunan di Pulau

Di pulau tersebut, rombongan Tamim bertemu suatu makhluk yang tubuhnya tertutup rambut atau bulu sangat lebat, sampai mereka sulit membedakan bagian depan dan belakang tubuhnya.

Ketika ditanya siapa dirinya, makhluk itu menjawab bahwa ia adalah al-Jassasah.

Ia tidak menjelaskan spesies, asal-usul, ataupun hakikat dirinya. Ia hanya memerintahkan para pelaut pergi menemui seorang laki-laki yang berada di dalam suatu bangunan atau tempat pertapaan, karena laki-laki tersebut sangat ingin memperoleh kabar dari mereka.[3]

Keterangan hadis mengenai al-Jassasah sangat terbatas. Riwayat tidak menerangkan bentuk wajahnya, ukuran tubuhnya, cara ia berjalan, ataupun apakah ia selalu tinggal di pulau tersebut. Karena itu, berbagai ilustrasi yang menggambarkannya sebagai perempuan berambut panjang, binatang laut, makhluk berkepala manusia, atau penjaga demonik tidak dapat dianggap sebagai gambaran yang bersumber dari hadis.

Riwayat memberinya sebuah nama dan beberapa ciri. Selebihnya tetap tidak diketahui.

Rombongan Tamim merasa takut dan mengkhawatirkan bahwa makhluk itu mungkin merupakan setan perempuan. Mereka kemudian bergegas menuju bangunan yang ditunjukkannya.

Al-Jassasah tidak membuka rahasia mengenai dirinya. Ia hanya mengarahkan mereka kepada sosok yang jauh lebih ingin mengetahui keadaan dunia luar daripada menjelaskan keadaan dirinya sendiri.

Di dalam bangunan itu, para pelaut menemukan seorang manusia dengan tubuh sangat besar dan ikatan yang sangat kuat. Kedua tangannya dikumpulkan pada leher, sedangkan besi mengikat bagian tubuhnya dari lutut hingga mata kaki.[3]

Riwayat tetap menyebutnya sebagai manusia.

Namun keadaan manusia tersebut menjadi kebalikan dari klaim yang kelak dibawanya. Sosok yang suatu hari akan bergerak cepat melintasi bumi sedang berada di tempat yang tidak dapat ditinggalkannya. Sosok yang kelak meminta dunia memercayai kekuasaannya tidak mampu melepaskan tangannya sendiri. Sosok yang nantinya menghubungkan ketundukan dengan hujan dan kekayaan sedang menunggu orang lain datang membawa berita.

Pertanyaan tentang Dunia di Luar

Ketika rombongan menanyakan identitasnya, laki-laki itu tidak segera menjawab. Ia terlebih dahulu meminta mereka memperkenalkan diri, kemudian mengajukan beberapa pertanyaan mengenai keadaan dunia.

Ia bertanya tentang pohon-pohon kurma di Baisan: apakah masih menghasilkan buah? Ia bertanya tentang Danau Tiberias: apakah airnya masih banyak? Ia bertanya tentang mata air Zughar: apakah masih mengalir dan digunakan penduduk untuk bercocok tanam?

Setelah itu, ia bertanya mengenai Nabi kaum yang ummi. Rombongan menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah meninggalkan Makkah dan menetap di Yatsrib (Madinah) serta memperoleh kemenangan atas banyak pihak yang menentangnya.

Laki-laki dalam belenggu tersebut mengatakan bahwa lebih baik bagi masyarakat Arab untuk menaati Nabi itu.[3]

Kalimat tersebut memperlihatkan perbedaan besar antara mengetahui kebenaran dan bersedia tunduk kepadanya.

Seseorang dapat mempunyai informasi yang tepat. Ia dapat mengenali seorang nabi, bahkan mengatakan bahwa manusia seharusnya menaati nabi tersebut. Namun pengetahuan belum tentu mengalahkan kesombongan.

Dajjal tidak menjadi pendusta semata-mata karena ia tidak mengetahui. Ia menjadi pendusta karena pengetahuan tidak membawanya kepada ketundukan.

Pertanyaannya mengenai Baisan, Danau Tiberias, dan mata air Zughar tampaknya berkaitan dengan waktu yang sedang ditunggunya. Akan tetapi, hadis tidak memberi ukuran tertentu untuk menetapkan kapan tanda itu dianggap telah terpenuhi. Ia tidak menerangkan berapa banyak air yang harus tersisa, bagaimana kondisi seluruh kebun Baisan harus dinilai, ataupun apakah satu musim kekeringan dapat disebut sebagai penggenapan.

Karena itu, setiap laporan modern mengenai penurunan permukaan danau atau perubahan produksi pertanian tidak dapat langsung diumumkan sebagai bukti bahwa kemunculan Dajjal telah berada pada tanggal tertentu.

Riwayat memberi tanda. Ia tidak memberi kalender perhitungan.

Setelah memperoleh kabar yang diinginkannya, laki-laki tersebut menyatakan dirinya sebagai al-Masih yang dimaksud dalam kisah Dajjal. Ia mengatakan waktunya hampir tiba ketika dirinya akan diberi izin keluar. Setelah keluar, ia akan mendatangi berbagai negeri, sementara Makkah dan Madinah tetap terlarang baginya serta dijaga oleh para malaikat.[3]

Ia tidak mengatakan bahwa dirinya akan membebaskan diri. Ia mengatakan akan diberi izin untuk keluar.

Bahkan dalam pengakuannya sendiri, awal kemunculannya tidak berada di bawah kendalinya. Ia mengetahui bahwa masa itu akan datang, tetapi tidak menentukan kapan.

Pengetahuan mengenai masa depan tidak menjadikannya penguasa atas masa tersebut.

Pulau yang Tidak Diberi Nama

Setelah menyampaikan pengalaman Tamim, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kisah itu sesuai dengan penjelasan yang sebelumnya telah beliau berikan mengenai Dajjal, Makkah, dan Madinah. Beliau kemudian menunjuk ke arah timur.[3]

Keterangan tersebut memberi arah, tetapi tidak memberi alamat.

Riwayat tidak menyebut nama pulau, koordinat, luas wilayah, atau laut tempatnya berada secara pasti. Rasulullah ﷺ sempat menyebut Laut Syam atau Laut Yaman, kemudian menegaskan arah timur. Redaksi itu tidak menghasilkan satu koordinat yang dapat dipastikan melalui peta modern.

Karena itu, berbagai teori yang menghubungkannya dengan Socotra, Segitiga Bermuda, sebuah pangkalan rahasia, ataupun pulau yang disembunyikan oleh teknologi tetap berada dalam wilayah spekulasi.

Tidak adanya informasi bukanlah bukti bahwa suatu lokasi sengaja dihapus dari peta oleh organisasi manusia.

Yang diketahui adalah adanya sebuah pulau, al-Jassasah, suatu bangunan, dan Dajjal dalam keadaan terbelenggu. Tidak diketahui siapa yang memasang belenggunya, bagaimana ia bertahan hidup, bagaimana besi itu kelak terlepas, atau apakah manusia lain akan bertemu dengannya sebelum masa kemunculannya.

Pencarian pulau tersebut juga tidak pernah diajarkan sebagai bagian dari perlindungan.

Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan umat menyisir lautan. Beliau mengajarkan manusia mengenali fitnah Dajjal, memohon perlindungan kepada Allah, menjaga ayat-ayat Surah al-Kahfi, serta menjauh ketika sosok itu benar-benar muncul.

Sebagian rahasia diberitakan agar manusia bersiap. Ia tidak selalu diberitakan agar manusia menemukannya.

Makna terbesar pulau tersebut karena itu bukan terletak pada pertanyaan mengenai lokasinya, melainkan pada keadaan orang yang berada di dalamnya.

Dajjal kelak akan tampil seolah-olah bumi berada dalam genggamannya. Namun kisah pertama mengenai dirinya bukanlah kisah seorang raja yang duduk di atas singgasana.

Dajjal ditemukan dalam ikatan. Ia menunggu berita. Ia menunggu perubahan pada dunia. Ia menunggu izin.

Sebelum umat diuji dengan penampilan kekuasaannya, mereka telah lebih dahulu diperlihatkan ketidakberdayaannya.

II. Dunia Menjelang Kemunculan

Perang Besar dan Konstantinopel

Riwayat tidak menggambarkan Dajjal keluar ketika dunia berada dalam keadaan tenang. Salah satu rangkaian sahih menempatkan kemunculannya berdekatan dengan perang besar, pergerakan pasukan, penaklukan kota, serta ketidakpastian yang belum sempat mereda.

Sahih Muslim menyebut pasukan Romawi akan turun di al-A‘maq atau Dabiq. Dari Madinah keluar sebuah pasukan Muslim yang digambarkan terdiri atas manusia-manusia terbaik di bumi pada masa itu. Setelah kedua pihak berhadapan, pihak Romawi meminta kaum Muslim menyingkir dan menyerahkan orang-orang yang mereka anggap berasal dari kalangan mereka. Kaum Muslim menolak menyerahkan saudara-saudara yang telah berdiri bersama mereka.[4]

Pertempuran kemudian membagi pasukan Muslim menjadi tiga kelompok: sepertiga mundur, sepertiga gugur sebagai syuhada, dan sepertiga lainnya memperoleh kemenangan serta menaklukkan Konstantinopel.

Hadis tidak memberi tanggal, nama panglima, bentuk pemerintahan, jenis persenjataan, atau negara modern yang dapat langsung dipastikan sebagai masing-masing pihak. Karena itu, penyebutan al-Rum tidak dapat digunakan untuk memusuhi seluruh masyarakat Eropa, umat Kristen, ataupun negara tertentu pada masa kini.

Riwayat berbicara mengenai pihak-pihak dalam sebuah peristiwa akhir zaman. Ia tidak memberi izin melakukan kebencian kolektif terhadap manusia berdasarkan kelahiran atau identitas modern mereka.

Pembagian pasukan tersebut juga memperlihatkan bahwa peristiwa besar tidak membuat seluruh manusia menunjukkan kualitas yang sama. Mereka menghadapi ancaman yang sama, tetapi keputusan mereka berbeda. Sebagian mundur, sebagian menyerahkan hidup, dan sebagian bertahan sampai kemenangan.

Peristiwa besar tidak selalu menciptakan isi hati manusia. Sering kali ia hanya membuka apa yang sebelumnya tersembunyi.

Setelah kemenangan, pasukan Muslim menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka mulai membagi harta rampasan dan menggantungkan pedang pada pohon-pohon zaitun, terdengar seruan bahwa Dajjal telah mendatangi keluarga yang mereka tinggalkan. Mereka meninggalkan harta itu dan bergerak kembali.

Namun kabar tersebut ternyata tidak benar.

Ketika mereka kemudian sampai di Syam, barulah Dajjal benar-benar keluar. Kaum Muslim masih mempersiapkan barisan ketika waktu salat tiba dan Nabi Isa عليه السلام turun.[4]

Rangkaian ini menunjukkan bahwa penaklukan Konstantinopel yang dimaksud hadis berada sangat dekat dengan kemunculan Dajjal dan turunnya Nabi Isa. Karena itu, tidak cukup menunjuk satu penaklukan historis pada masa lalu lalu menyatakan seluruh rangkaiannya pasti telah selesai.

Hadis juga tidak diberikan sebagai perintah agar umat mencari peperangan atau menjadikan nama Dabiq dan Konstantinopel sebagai pembenaran bagi ambisi politik.

Kabar kenabian tidak menjadikan suatu kelompok benar hanya karena kelompok itu berhasil menempatkan dirinya di dalam cerita.

Kabar Palsu Sebelum Kemunculan Sebenarnya

Kabar pertama mengenai Dajjal ternyata tidak benar. Namun kabar tersebut bekerja karena dibangun di atas sesuatu yang memang akan terjadi.

Dajjal benar-benar akan keluar. Keluarga yang ditinggalkan pasukan memang dapat berada dalam bahaya. Mereka memang sedang berada jauh dari rumah. Yang salah hanyalah waktu kejadiannya.

Kebohongan yang mudah dipercaya sering tidak menciptakan seluruh cerita dari kehampaan. Ia mengambil fakta yang benar, kemudian menggeser waktu, tempat, atau pelakunya.

Riwayat tersebut memberi pelajaran penting mengenai kabar akhir zaman. Mengetahui bahwa suatu peristiwa akan terjadi tidak otomatis membuat manusia mampu mengenali setiap laporan tentang peristiwa itu.

Seseorang dapat memercayai kebenaran mengenai Dajjal, tetapi tetap tertipu oleh kabar palsu mengenai kemunculannya. Ia dapat mengenal tanda akhir zaman, tetapi salah menunjuk waktu. Ia dapat hafal nama ancaman, tetapi mengikuti sumber berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pengetahuan mengenai akhir zaman tanpa disiplin sumber justru dapat membuat manusia lebih mudah dimanipulasi.

Setiap perang dapat disebut perang terakhir. Setiap pemimpin yang dibenci dapat dituduh sebagai Dajjal. Setiap bencana dapat diumumkan sebagai penggenapan sempurna. Setiap angka dapat dipaksa membentuk tanggal tertentu.

Ketika ramalan seperti itu terus gagal, bahayanya tidak berhenti pada rasa malu orang yang menyebarkannya. Kegagalan yang berulang dapat membuat manusia kehilangan kewaspadaan terhadap peringatan yang benar.

Kabar palsu dapat menimbulkan kepanikan sebelum waktunya. Ia juga dapat membuat manusia tidak lagi percaya ketika waktunya benar-benar tiba.

Dunia yang Lelah dan Janji Keselamatan

Konteks peperangan membantu menjelaskan keadaan psikologis dunia ketika Dajjal muncul. Manusia telah mengalami kehilangan. Pasukan baru kembali dari pertempuran. Hasil kemenangan belum sempat berubah menjadi ketenangan. Rasa aman telah lama terguncang.

Hadis tidak mengatakan bahwa kelelahan manusia menyebabkan keluarnya Dajjal. Namun dunia yang lelah lebih mudah menerima sosok yang menjanjikan keteraturan, makanan, keamanan, dan kendali.

Manusia yang baru melewati perang tidak selalu mencari kebenaran yang paling murni. Sering kali mereka mencari seseorang yang menjanjikan bahwa kekacauan akan berhenti.

Ketika dunia sangat lelah, keselamatan palsu dapat terasa lebih menarik daripada kebenaran yang masih menuntut keteguhan.

III. Dari Arah Timur

Khurasan dan Jalur Syam–Irak

Kisah Tamim ad-Dari menghubungkan Dajjal dengan arah timur. Sebuah hadis dalam Jami‘ at-Tirmidhi menyebut bahwa ia keluar dari sebuah wilayah di timur bernama Khurasan. Riwayat ini dinilai hasan, sehingga kedudukannya dapat diterima, tetapi tetap perlu dibedakan dari riwayat-riwayat dalam Sahih Muslim.[5]

Hadis panjang an-Nawwas bin Sam‘an kemudian menyatakan Dajjal tampil di jalan atau kawasan antara Syam dan Irak serta menyebarkan kerusakan ke kanan dan ke kiri.[6]

Khurasan dalam hadis adalah nama suatu kawasan, bukan penunjukan eksplisit kepada satu negara atau provinsi modern tertentu. Riwayat juga tidak menjelaskan kota pertama yang didatangi Dajjal ataupun rute yang menghubungkan pulau tempat ia ditahan dengan Khurasan dan jalur Syam–Irak.

Penyandingan yang paling berhati-hati adalah memahami Khurasan sebagai kawasan awal kemunculannya, sedangkan jalur Syam–Irak menjadi salah satu tempat fitnahnya tampil secara lebih terbuka. Namun hubungan tersebut merupakan hasil penggabungan dua riwayat, bukan satu perjalanan rinci yang diceritakan dalam satu hadis.

Riwayat memberi arah dan beberapa titik, tetapi tidak memberi peta perjalanan.

Tempat kemunculan Dajjal juga tidak menjadikan semua manusia yang lahir di kawasan tersebut sebagai pengikutnya. Begitu pula gambaran mengenai wajah kelompok yang mengikutinya dari timur tidak boleh diubah menjadi prasangka terhadap satu etnis modern.

Hadis menyebut kelompok tertentu dalam peristiwa tertentu. Ia tidak memberi izin menghubungkan dosa seseorang dengan seluruh masyarakat yang berbagi ciri fisik atau asal geografis dengannya.

Wajah yang Telah Dijelaskan

Dajjal bukan sekadar simbol abstrak bagi sistem, teknologi, atau ideologi. Hadis menggambarkannya sebagai seorang laki-laki muda, berambut sangat keriting, dan mempunyai cacat mata yang jelas.[6]

Dalam beberapa riwayat sahih, mata kanannya digambarkan seperti buah anggur yang menonjol. Riwayat lain menyebut cacat pada mata kirinya dan lapisan tebal pada salah satu mata.

Para pensyarah hadis, antara lain al-Qadhi ‘Iyadh sebagaimana dikutip Imam an-Nawawi, menyelaraskan redaksi-redaksi tersebut dengan menjelaskan bahwa kedua mata Dajjal mempunyai cacat dalam bentuk yang berbeda: salah satunya kehilangan fungsi atau tertutup, sedangkan yang lain menonjol dan tetap tampak rusak.[7]

Penjelasan ini merupakan upaya ulama memahami beberapa redaksi sahih, bukan diagnosis medis. Hadis tidak menerangkan nama penyakit, penyebab cacat, ataupun riwayat cedera pada matanya.

Cacat tersebut diberikan sebagai tanda pengenalan dan bantahan terhadap klaimnya.

Allah tidak bermata cacat.

Dajjal mempunyai tubuh. Tubuh itu menempati ruang, memiliki arah kanan dan kiri, datang dari suatu wilayah, serta membawa kerusakan yang tidak mampu ia hilangkan dari dirinya sendiri.

Namun manusia dengan seluruh keterbatasan tersebut akan meminta dunia memberikan kepadanya sesuatu yang hanya layak bagi Allah.

Ia meminta manusia melupakan cacat tubuh karena terpukau oleh hujan. Melupakan batas diri karena melihat tanah menjadi hijau. Melupakan kemakhlukan karena kekayaan seolah-olah bergerak setelah suaranya.

Tubuh Dajjal menjadi bantahan yang dibawanya ke mana pun ia pergi.

Tulisan yang Dibaca Orang Beriman

Di antara kedua mata atau pada dahi Dajjal terdapat tulisan yang terdiri atas huruf:

ك ف ر

Kāf. Fā’. Rā’.

Tulisan itu membentuk kata kāfir. Riwayat sahih menyatakan bahwa setiap orang beriman dapat membacanya, termasuk mereka yang secara umum tidak dapat membaca.[1][2]

Keterangan tersebut tidak perlu diubah menjadi teori mengenai tato, kode elektronik, proyeksi, tanda digital, atau teknologi tertentu. Riwayat tidak menjelaskan bahan, warna, ukuran, ataupun mekanisme tulisan itu.

Yang dinyatakan adalah keberadaan tanda tersebut dan kemampuan orang beriman mengenalinya.

Di sinilah terdapat salah satu paradoks terkuat dalam kisah Dajjal. Pendusta terbesar datang dengan tanda yang membuka hakikat dirinya.

Masalahnya bukan tidak adanya petunjuk. Masalahnya adalah apakah manusia masih bersedia memercayai petunjuk ketika keuntungan, ketakutan, dan tekanan sosial telah mengarah ke tempat lain.

Tulisan pada wajahnya menyatakan kekafiran. Namun dunia di sekelilingnya dapat menyebutnya penyelamat.

Kebohongan tidak selalu berhasil dengan menghapus seluruh bukti. Kadang-kadang ia berhasil dengan membuat manusia merasa bahwa bukti tersebut tidak lagi penting.

Klaim Ketuhanan

Riwayat-riwayat sahih memperlihatkan bahwa fitnah Dajjal mencapai tuntutan ketuhanan. Ketika seorang mukmin berjalan hendak menemuinya, para penjaga Dajjal bertanya mengapa ia tidak memercayai “tuhan” mereka. Mukmin itu menjawab bahwa Tuhan mereka yang sebenarnya tidak tersembunyi, kemudian ketika melihat Dajjal, ia menyatakan bahwa sosok tersebut adalah pendusta yang telah diberitakan Rasulullah ﷺ.[10]

Dajjal tidak hanya meminta manusia mematuhinya sebagai penguasa. Ia berusaha mengarahkan ketergantungan mereka kepada pengakuan bahwa dirinya mempunyai hak-hak Tuhan.

Ia menghubungkan dirinya dengan perkara-perkara yang selama ini dikenal manusia sebagai karunia Allah: hujan, tanaman, rezeki, keamanan, kehidupan, dan kematian. Ia ingin manusia melupakan bahwa seluruhnya tetap berada dalam kekuasaan Allah.

Perkara-perkara luar biasa yang terjadi di tangannya tidak menjadikannya pencipta. Para ulama menerangkan bahwa semuanya berlangsung dengan kuasa dan kehendak Allah sebagai ujian bagi manusia. Setelah batas ujian itu selesai, Dajjal dibuat tidak mampu membunuh kembali mukmin yang telah dihidupkan, kemudian seluruh kekuasaannya berakhir di tangan Nabi Isa.[7]

Izin Allah terhadap terjadinya sebuah ujian tidak sama dengan keridaan Allah terhadap kebohongan di dalamnya. Karena Dajjal tidak pernah keluar dari kekuasaan Allah, kemunculannya memiliki waktu, perjalanannya mempunyai batas, dan kehidupannya mempunyai akhir.

Bantahan terhadap klaimnya tetap sederhana. Tuhan tidak menunggu izin untuk keluar dari belenggu. Tuhan tidak datang dari arah timur. Tuhan tidak mempunyai mata yang rusak. Tuhan tidak dilarang memasuki kota tertentu. Tuhan tidak melarikan diri dari seorang nabi. Tuhan tidak mati dengan darah pada tombak.

Fitnah Dajjal menjadi rumit melalui pertunjukannya. Bantahannya tetap sederhana melalui tauhid.

IV. Empat Puluh Hari

Hari yang Tidak Berjalan Biasa

Ketika para sahabat bertanya berapa lama Dajjal berada di bumi, Rasulullah ﷺ menjawab bahwa masanya berlangsung empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu pekan, sedangkan hari-hari berikutnya seperti hari biasa.[6]

Jawaban tersebut sulit dipahami hanya sebagai ungkapan bahwa hari-hari itu terasa panjang karena penderitaan. Para sahabat langsung menanyakan salat pada hari yang panjangnya seperti satu tahun.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa satu rangkaian salat harian tidak mencukupi. Kaum Muslim harus memperkirakan waktunya.[6]

Percakapan itu menunjukkan bahwa perubahan durasi waktu tersebut mempunyai dampak nyata terhadap kehidupan manusia.

Namun hadis tidak menjelaskan mekanisme astronomisnya. Ia tidak mengatakan bumi berhenti berputar, matahari berhenti, ataupun sumbu bumi bergeser. Semua penjelasan tersebut merupakan teori yang tidak dapat dipastikan dari riwayat.

Kita menerima bahwa hari itu benar-benar sangat panjang tanpa mengarang bagaimana alam mengalaminya.

Salat ketika Tanda Alam Berubah

Pertanyaan pertama para sahabat setelah mendengar hari seperti satu tahun bukan mengenai perdagangan, pekerjaan, atau cara menghitung usia. Mereka bertanya tentang salat.

Hal itu memperlihatkan cara para sahabat memahami perubahan besar: apa pun yang terjadi pada dunia, hubungan manusia dengan Allah harus tetap dijaga.

Langit dapat berubah. Matahari mungkin tidak lagi memberikan pola yang biasa. Tubuh manusia dapat kehilangan tanda alami untuk pagi, siang, sore, dan malam. Namun perubahan alam tidak membatalkan kewajiban seorang hamba.

Perintah memperkirakan waktu juga memperlihatkan bahwa ibadah tidak bertentangan dengan ilmu dan perhitungan. Ketika tanda alam tidak dapat digunakan sebagaimana biasanya, manusia diminta menggunakan estimasi untuk menjaga keteraturan salat.

Dunia dapat kehilangan jamnya. Seorang mukmin tidak diberi izin kehilangan arah sujudnya.

Perjalanan seperti Awan

Ketika ditanya mengenai kecepatan Dajjal, Rasulullah ﷺ menggambarkannya seperti awan yang didorong angin.[6]

Hadis tidak menjelaskan kendaraan yang digunakannya. Tidak ada dasar untuk memastikan ia memakai pesawat, kendaraan terbang, teknologi pemindahan instan, hewan tertentu, atau sarana militer modern. Perumpamaan tersebut menjelaskan kecepatan, bukan desain alat transportasi.

Riwayat juga tidak memberi urutan lengkap negeri-negeri yang didatanginya atau berapa lama ia tinggal di setiap tempat. Namun gambaran umumnya sangat jelas. Sosok itu bergerak cepat, sementara kabar mengenai apa yang dibawanya menyebar dari satu masyarakat kepada masyarakat lain.

Sebelum Dajjal tiba, suatu kaum mungkin telah mendengar bahwa masyarakat yang menerimanya memperoleh hujan, tanaman, serta ternak yang subur. Mereka mungkin juga mendengar bahwa masyarakat yang menolaknya mengalami kekeringan.

Dengan demikian, fitnah dapat bekerja bahkan sebelum sosoknya terlihat secara langsung. Manusia mulai menilai berdasarkan cerita mengenai hasil duniawi yang menyertai kedatangannya.

V. Ketika Hujan Menjadi Ujian

Kaum yang Menerima

Hadis an-Nawwas bin Sam‘an menggambarkan Dajjal mendatangi suatu kaum dan menyeru mereka. Mereka menerima seruannya. Setelah itu, hujan turun, tanaman tumbuh, dan ternak mereka kembali dalam keadaan sangat subur serta menghasilkan banyak susu.[6]

Bagi masyarakat tersebut, keputusan menerima Dajjal tampak memperoleh pembenaran dari dunia di sekeliling mereka. Tanah menjadi hijau. Hewan sehat. Makanan tersedia.

Mereka dapat mulai bertanya: bila pilihan kami salah, mengapa kehidupan menjadi lebih baik?

Namun keuntungan tidak selalu menjadi penilaian moral. Kemakmuran dapat menjadi ujian sebagaimana kesulitan menjadi ujian. Sesuatu tidak berubah menjadi benar hanya karena memberikan keuntungan kepada orang yang menerimanya.

Dajjal membuat keuntungan dan kebenaran tampak seolah-olah merupakan hal yang sama. Ia mengajarkan manusia menilai akidah berdasarkan hasil tercepat yang mereka peroleh.

Kaum yang Menolak

Dajjal kemudian mendatangi kaum lain. Mereka menolaknya. Ia meninggalkan mereka dalam keadaan kekeringan dan kehilangan harta.[6]

Riwayat tidak mengatakan bahwa orang-orang tersebut segera memperoleh pengganti duniawi yang lebih baik. Tidak ada keterangan bahwa ladang mereka kembali hijau pada hari berikutnya atau makanan turun agar pilihan mereka menjadi mudah.

Mereka menolak kebohongan, lalu menghadapi konsekuensi yang sangat berat dalam kehidupan.

Di sinilah fitnah tidak lagi hanya menyentuh perdebatan mengenai siapa yang benar. Ia memasuki rumah, ladang, kandang, dan rasa takut manusia terhadap penderitaan orang-orang yang mereka cintai.

Seseorang mungkin mampu menahan lapar untuk dirinya sendiri. Namun apakah ia mampu melihat keluarganya kelaparan ketika tetangga yang mengikuti Dajjal mempunyai makanan?

Apa yang terjadi ketika seluruh masyarakat mengatakan bahwa penderitaan dapat dihentikan hanya dengan satu pengakuan?

Dajjal membuat penolakan terhadap dirinya terlihat seperti kekejaman terhadap keluarga sendiri.

Ia tidak hanya bertanya apakah manusia memercayainya. Ia membuat mereka seolah-olah harus memilih antara mempertahankan iman dan menyelamatkan orang-orang yang mereka cintai.

Kebohongan terbesar tidak selalu meminta manusia mencintai kejahatan. Kadang-kadang ia meminta mereka memberi makan keluarga, lalu menjadikan makanan sebagai harga bagi jiwa.

Kekayaan dari Reruntuhan

Dalam hadis yang sama, Dajjal melewati tanah atau bangunan yang telah menjadi reruntuhan dan memerintahkan perbendaharaannya keluar. Kekayaan itu kemudian berkumpul mengikutinya seperti kawanan lebah mengikuti pemimpinnya.[6]

Riwayat tidak menjelaskan jenis seluruh harta tersebut ataupun mekanisme bagaimana ia keluar. Namun bagi manusia yang menyaksikannya, pesan yang ditampilkan sangat kuat: bukan hanya kebutuhan hari ini, tetapi kekayaan yang tersimpan di bumi seolah-olah berada di bawah perintahnya.

Pada titik tersebut, kekuasaan alam, ekonomi, dan spiritual berkumpul dalam satu sosok.

Masyarakat yang telah lama mengukur kebenaran berdasarkan keberhasilan mungkin tidak memerlukan argumen yang panjang. Mereka melihat siapa yang mempunyai makanan, hujan, harta, dan pengikut, lalu menganggap orang itulah yang benar.

Para Pengikut Dajjal

Sahih Muslim menyebut tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan mengikuti Dajjal dengan mengenakan tayālisah, sejenis kain atau selendang luar. Redaksi Arab hadis tersebut tidak menyebut warna pakaian mereka.[8]

Keterangan ini harus dibaca dengan cermat.

Hadis tidak menyatakan bahwa seluruh orang Yahudi mengikuti Dajjal. Ia tidak menyebut setiap orang Yahudi di Isfahan melakukannya. Ia juga tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa Dajjal sendiri pasti berasal dari etnis Yahudi.

Tujuh puluh ribu orang tersebut merupakan kelompok tertentu yang membuat pilihan tertentu dalam suatu peristiwa akhir zaman.

Riwayat tidak memberi izin melakukan kebencian kolektif terhadap orang-orang yang hidup pada masa kini berdasarkan agama atau keturunan mereka.

Hadis hasan mengenai Khurasan juga menyebut kelompok-kelompok manusia mengikuti Dajjal dari timur.[5] Sementara itu, riwayat Madinah menerangkan bahwa orang-orang kafir dan munafik keluar dari kota tersebut menuju dirinya.[9]

Namun alasan sosial yang lebih luas terlihat dalam kisah kaum yang menerima hujan dan kemakmuran. Dajjal menarik manusia bukan hanya melalui identitas kelompok, tetapi melalui kebutuhan, ketakutan, kekaguman, tekanan sosial, serta keinginan berada di sisi yang tampak menang.

Dengan demikian, pengikut Dajjal tidak dapat direduksi menjadi satu etnis, satu bangsa, satu kelas sosial, ataupun satu jenis kelamin.

Yang mempersatukan mereka adalah pilihan mengikuti Dajjal. Bukan darah, bukan bahasa, bukan pula tempat kelahiran.

VI. Surga yang Membakar

Dua Aliran yang Hakikatnya Terbalik

Riwayat sahih menyebut Dajjal membawa dua aliran. Salah satunya tampak sebagai air yang jernih, sedangkan yang lain terlihat seperti api yang berkobar. Namun hakikat keduanya berlawanan dengan penampilan.

Apa yang terlihat sebagai api merupakan air yang sejuk. Sebaliknya, apa yang tampak sebagai air membawa kebinasaan. Rasulullah ﷺ memerintahkan orang yang mengalaminya memilih apa yang terlihat sebagai api, memejamkan mata, menundukkan kepala, lalu meminumnya.[2]

Hadis tidak menjelaskan apakah pembalikan itu terjadi melalui mekanisme fisik yang dikenal manusia. Ia tidak menyebut hipnosis, hologram, zat kimia, ilusi optik, atau teknologi tertentu.

Semua usaha mencocokkannya dengan satu penemuan modern tetap merupakan dugaan. Yang diberikan riwayat adalah adanya konflik nyata antara apa yang dilihat dan apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika Mata Tidak Menjadi Hakim Terakhir

Petunjuk untuk memejamkan mata mempunyai makna yang sangat dalam.

Pada saat itu, orang beriman tidak selamat karena mempunyai penglihatan lebih tajam daripada orang lain. Ia selamat karena mengetahui bahwa penglihatan tidak selalu mempunyai kata terakhir.

Mata mengatakan sesuatu adalah api. Wahyu memberitakan bahwa hakikatnya air. Mata menunjukkan jalan yang tampak aman. Wahyu mengingatkan bahwa keselamatan berada pada arah yang berbeda.

Islam tidak mengajarkan manusia menolak indera dalam kehidupan biasa. Mata adalah amanah dan sarana pengetahuan. Namun dalam fitnah Dajjal, apa yang ditampilkan kepada indera telah dijadikan alat penyesatan.

Orang beriman dapat melihat hal yang sama seperti manusia lain, tetapi tidak menyerahkan keputusan terakhir kepada apa yang terlihat paling kuat.

Seluruh pola fitnah Dajjal bergerak dengan cara serupa.

Tulisan kekafiran berada pada wajahnya, tetapi hujan turun setelah perintahnya. Matanya cacat, tetapi harta mengikuti langkahnya. Ia manusia, tetapi menampilkan seolah-olah memiliki kuasa atas kehidupan.

Apinya ternyata air, sedangkan airnya membakar. Masalahnya bukan ketiadaan informasi. Masalahnya adalah benturan antara wahyu, kebutuhan, dan penampilan.

Surga dan Neraka yang Bukan Miliknya

Riwayat lain memakai istilah yang diterjemahkan sebagai surga dan neraka Dajjal. “Surga” yang dibawanya ternyata merupakan api, sedangkan “apinya” menjadi keselamatan bagi orang yang memegang petunjuk Nabi ﷺ.[2]

Hal itu tidak berarti Dajjal membawa Surga dan Neraka akhirat yang sebenarnya. Keputusan akhir mengenai keselamatan manusia tidak berada di tangannya.

Ia membawa sesuatu yang ditampilkan dan dinamakannya sebagai keselamatan atau hukuman. Ia berusaha mengambil bahasa agama: surga, neraka, hidup, mati, rezeki, dan ketuhanan, lalu meletakkan seluruh makna tersebut di bawah kuasa dirinya sendiri.

Ia ingin manusia menyebut keselamatan berdasarkan apa yang diberikannya, menyebut kebinasaan berdasarkan apa yang diancamkannya, dan menentukan kebenaran berdasarkan siapa yang tampak menang.

Karena itu, fitnah Dajjal juga menjadi ujian terhadap kemampuan manusia menjaga makna.

Apakah keselamatan masih berarti keselamatan iman, atau hanya tubuh yang kenyang? Apakah kebenaran masih ditentukan wahyu, atau hasil yang paling cepat terlihat? Apakah surga masih dicari sebagai keridaan Allah, atau telah direduksi menjadi kenyamanan yang diberikan seorang penguasa?

Manusia yang sepanjang hidupnya menyamakan keuntungan dengan kebaikan akan menghadapi kesulitan besar ketika kebohongan datang membawa keuntungan yang luar biasa.

VII. Kota yang Tidak Dapat Dimasukinya

Makkah, Madinah, dan Para Malaikat

Meskipun bergerak cepat melintasi berbagai negeri, Dajjal tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah. Setiap jalan masuk menuju kedua kota tersebut dijaga oleh para malaikat.[9]

Riwayat mengenai Madinah memberi rincian yang lebih banyak.

Sahih Muslim menyebut Dajjal datang dari arah timur dengan tujuan Madinah dan berhenti di kawasan belakang Uhud. Para malaikat kemudian memalingkan arahnya menuju Syam, tempat ia pada akhirnya akan binasa.[9]

Riwayat tidak memberi dasar untuk menciptakan adegan pengepungan Makkah, menghitung jumlah pasukan yang mengelilinginya, ataupun menentukan jalur masuk modern yang dijaga malaikat.

Yang dinyatakan dengan tegas adalah bahwa Dajjal tidak dapat masuk. Namun perlindungan tempat tidak secara otomatis menjadi perlindungan hati.

Tiga Guncangan Madinah

Ketika Dajjal berada di luar Madinah, kota tersebut mengalami tiga guncangan. Setelah itu, setiap orang kafir dan munafik keluar dari kota menuju dirinya.[9]

Malaikat menjaga pintu kota. Namun manusia tetap mempunyai kehendak untuk meninggalkan kota itu. Dajjal tidak dapat masuk ke Madinah. Maka orang-orang yang menginginkannya keluar dari Madinah.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kedekatan fisik dengan tempat suci tidak selalu berarti ketundukan hati kepada Allah. Seseorang dapat hidup di kota Nabi ﷺ, mendengar azan, dan berjalan di tanah yang dimuliakan, tetapi tetap menyimpan kemunafikan.

Tempat yang mulia tidak menggantikan iman.

Di antara manusia yang keluar dari Madinah terdapat pula seorang mukmin. Namun ia tidak keluar untuk mengikuti Dajjal. Ia keluar untuk menyatakan kebenaran di hadapannya.

Mukmin yang Menolak Pertunjukan Dajjal

Riwayat sahih menggambarkan seorang laki-laki, disebut sebagai salah seorang manusia terbaik pada masa itu, mendatangi Dajjal di kawasan tandus dekat Madinah.

Para penjaga Dajjal menghentikannya. Dalam salah satu redaksi, mereka mempertanyakan mengapa ia tidak memercayai “tuhan” mereka. Mukmin tersebut menolak pengakuan itu dan, ketika dibawa menghadap Dajjal, menyatakan bahwa sosok di hadapannya adalah pendusta yang telah diberitakan Rasulullah ﷺ.[10]

Dajjal kemudian menjadikan laki-laki tersebut sebagai panggung pembuktian. Ia bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya apakah mereka masih akan meragukannya bila ia membunuh laki-laki itu lalu menghidupkannya kembali.

Setelah memperoleh jawaban, Dajjal membunuhnya. Dalam variasi redaksi, tubuhnya digambarkan dibelah atau dipotong. Kemudian, dengan izin Allah, laki-laki itu kembali berdiri.

Dajjal mengharapkan peristiwa tersebut menjadi bukti bagi klaimnya. Namun sang mukmin justru mengatakan bahwa kini ia semakin yakin bahwa sosok di hadapannya benar-benar Dajjal. Pertunjukan itu berbalik melawan pelakunya.

Dajjal menunjukkan kemampuan membunuh, tetapi sang mukmin menunjukkan bahwa kematian tidak selalu menghancurkan kesaksian.

Dajjal menampilkan seseorang kembali hidup, tetapi laki-laki itu memperlihatkan bahwa kehidupan yang kembali tidak otomatis membuktikan ketuhanan orang yang menjadikannya tontonan.

Dajjal menggunakan tubuh mukmin tersebut sebagai panggung kekuasaan. Sang mukmin menggunakan panggung yang sama sebagai mimbar kebenaran.

Ketika Dajjal mencoba membunuhnya untuk kedua kalinya, ia tidak mampu melakukannya.[10]

Sahih Muslim juga memuat komentar dari Abu Ishaq bahwa laki-laki tersebut dikatakan sebagai Khidir. Namun komentar itu bukan sabda Nabi ﷺ. Karena itu, identitas sang mukmin tidak dapat dipastikan sebagai Khidir hanya berdasarkan keterangan tambahan tersebut.[10]

Hadis panjang an-Nawwas bin Sam‘an juga menceritakan Dajjal memotong seorang pemuda menjadi dua, kemudian memanggilnya kembali hingga pemuda itu datang dalam keadaan hidup. Dua riwayat sahih tersebut sering dipahami sebagai laporan yang saling melengkapi atau menggambarkan episode yang sama. Namun teksnya tidak secara formal menyatakan bahwa pemuda dalam hadis an-Nawwas pasti merupakan mukmin di luar Madinah.[6][10]

Karena itu, rincian keduanya dapat disandingkan dengan hati-hati, tetapi tidak dilebur seolah-olah seluruh unsur berasal dari satu redaksi.

Kekuatan kisah mukmin itu tidak bergantung pada nama yang terkenal. Ia berada pada keteguhan seorang hamba yang berdiri di hadapan pusat fitnah dan menyebut kebohongan dengan nama yang sebenarnya.

Setelah gagal memasuki Madinah dan gagal memperoleh ketundukan dari mukmin tersebut, Dajjal dipalingkan menuju Syam. Di sanalah perjalanannya memasuki tahap akhir.

VIII. Kaum Muslim dan Turunnya Isa bin Maryam

Pemimpin dari Kalangan Umat

Ketika fitnah Dajjal mencapai tahap akhirnya, kaum Muslim tidak digambarkan sepenuhnya tercerai-berai. Mereka masih memiliki jamaah, barisan, salat, dan seorang pemimpin dari kalangan mereka.

Sahih Muslim menyatakan bahwa suatu kelompok dari umat tetap berjuang di atas kebenaran. Ketika Nabi Isa عليه السلام turun, pemimpin kaum Muslim mempersilakan beliau maju untuk mengimami salat. Nabi Isa menolak mengambil alih posisi yang telah ada dan menjelaskan bahwa sebagian umat ini menjadi pemimpin bagi sebagian lainnya sebagai kemuliaan Allah bagi umat Muhammad ﷺ.[11]

Sahih al-Bukhari juga menyebut turunnya putra Maryam ketika imam kaum Muslim berasal dari kalangan mereka sendiri.[11]

Keterangan tersebut menampilkan satu keadaan penting: pada puncak kekacauan, kaum Muslim masih menjaga salat dan tidak berdiri tanpa kepemimpinan.

Turunnya seorang nabi tidak membuat jamaah itu berubah menjadi kerumunan tanpa keteraturan. Sebaliknya, Nabi Isa hadir di tengah umat yang masih memiliki barisan dan imam.

Apakah Ia Imam Mahdi?

Hadis Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim mengenai turunnya Nabi Isa tidak menyebut nama pemimpin tersebut sebagai Imam Mahdi.

Nama Mahdi berasal dari riwayat-riwayat lain. Sunan Abi Dawud memuat hadis sahih bahwa Mahdi berasal dari keluarga Nabi ﷺ dan merupakan keturunan Fatimah رضي الله عنها. Riwayat hasan lainnya menyatakan ia memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezaliman serta memimpin selama tujuh tahun.[12]

Berdasarkan penyandingan antara hadis-hadis Mahdi dan riwayat turunnya Nabi Isa, banyak ulama memahami bahwa pemimpin kaum Muslim pada masa itu adalah Imam Mahdi.

Pembedaan ini penting.

Sahih Muslim menyebut seorang pemimpin kaum Muslim. Identifikasinya sebagai Mahdi merupakan kesimpulan kuat melalui penggabungan beberapa riwayat, tetapi bukan nama yang tertulis secara eksplisit dalam hadis tersebut.

Kepercayaan kepada kedatangan pemimpin adil juga tidak berarti manusia harus mengikuti setiap orang yang mengaku sebagai Mahdi. Nama dapat ditiru. Silsilah dapat diklaim. Simbol dan bendera dapat dibuat dengan sengaja. Namun, kabar kenabian tidak diberikan untuk menjadi panggung bagi orang yang haus kekuasaan.

Turunnya Isa bin Maryam

Pada puncak fitnah, Allah mengutus Isa bin Maryam عليه السلام.

Hadis an-Nawwas bin Sam‘an menggambarkan beliau turun di dekat menara putih di sebelah timur Damaskus, mengenakan dua helai pakaian yang diberi warna ringan, serta meletakkan kedua tangan pada sayap dua malaikat. Ketika menundukkan kepala, tetesan jatuh; ketika mengangkatnya, butiran seperti mutiara berhamburan.[6]

Riwayat tidak menjelaskan rupa kedua malaikat, ukuran sayap mereka, jumlah manusia yang menyaksikan, ataupun apakah seluruh dunia melihat turunnya Nabi Isa secara serentak. Hadis juga tidak memberi dasar menambahkan langit yang terbelah, suara yang didengar seluruh bumi, cahaya tertentu, ataupun pidato perkenalan.

Detail yang sahih telah memiliki keagungan yang sangat kuat tanpa tambahan.

Hadis yang sama menyatakan setiap orang kafir yang mencium napas Nabi Isa dalam jangkauannya akan mati, sementara jangkauan napas beliau mencapai sejauh pandangannya. Nabi Isa kemudian mencari Dajjal hingga menyusulnya di gerbang Ludd.[6]

Kemampuan tersebut tetap merupakan karunia Allah, bukan kekuasaan ilahi yang mandiri pada diri Nabi Isa. Beliau turun sebagai nabi dan hamba Allah untuk mengakhiri klaim ketuhanan seorang pendusta.

Dua al-Masih

Kontras antara Dajjal dan Nabi Isa sangat tajam. Dajjal merupakan al-Masih yang palsu, manusia yang meninggikan dirinya menjadi Tuhan. Sebaliknya, Nabi Isa merupakan al-Masih yang benar, nabi besar yang tetap datang sebagai hamba Allah.

Dajjal membutuhkan pengakuan dan ketundukan manusia kepada dirinya. Nabi Isa tidak mengambil setiap kedudukan kehormatan yang ditawarkan kepadanya.

Pemimpin kaum Muslim mempersilakan beliau menjadi imam. Dalam riwayat Sahih Muslim, Nabi Isa menolak mengambil alih posisi yang telah ada.[11]

Tidak terdapat perebutan kekuasaan. Pemimpin umat mengenali seorang nabi. Sang nabi menghormati kepemimpinan yang telah Allah tegakkan di tengah umat.

Dajjal mengangkat dirinya melampaui hakikatnya. Nabi Isa membawa kemuliaan luar biasa tanpa pernah meninggalkan hakikatnya sebagai hamba Allah.

Dajjal berkata melalui seluruh pertunjukannya: lihatlah apa yang dapat kulakukan, lalu sembahlah aku. Nabi Isa datang dengan tanda yang jauh melampaui kemampuan manusia biasa, tetapi menggunakannya untuk menghancurkan klaim bahwa manusia dapat menjadi Tuhan.

IX. Gerbang Ludd

Ketika Dajjal Mulai Larut

Setelah Nabi Isa turun, riwayat tidak memberi Dajjal babak kekuasaan baru yang panjang.

Ketika melihat Nabi Isa, Dajjal mulai larut seperti garam di dalam air. Bila dibiarkan, ia akan terus larut hingga binasa. Namun Allah menetapkan kematiannya melalui tangan Nabi Isa.[4]

Hadis tidak menjelaskan bagian tubuh yang lebih dahulu berubah ataupun seberapa cepat proses itu terjadi. Perumpamaan yang diberikan sudah cukup: seperti garam dalam air.

Sebelumnya, manusia gemetar ketika Dajjal datang. Kini Dajjal tidak mampu mempertahankan dirinya ketika al-Masih yang benar berdiri di hadapannya. Sebelumnya, kota-kota mencari perlindungan dari langkahnya. Kini ia mencari tempat untuk menjauh dari seorang nabi. Sebelumnya, ia membuat manusia merasa tidak ada wilayah di luar jangkauannya. Kini perjalanan dirinya sendiri mulai kehabisan ruang.

Pelarian Terakhir

Dajjal melarikan diri dan Nabi Isa mengejarnya. Hadis tidak menggambarkan duel panjang, adu senjata yang seimbang, percakapan dramatis, ataupun kekuatan terakhir yang dikeluarkan Dajjal.

Riwayat menyatakan Nabi Isa menyusulnya di gerbang Ludd dan membunuhnya.[6]

Keagungan peristiwa itu terletak pada ketidakseimbangannya. Dajjal telah membuat dunia mengira dirinya tidak terkalahkan. Namun ketika kebenaran yang telah ditetapkan untuk mengakhirinya datang, ia tidak memperoleh pertempuran panjang yang dapat membuat dirinya tampak setara.

Dajjal melarikan diri, ia disusul, kemudian perjalanannya berakhir.

Darah pada Tombak

Sahih Muslim menyebut darah Dajjal terlihat pada tombak Nabi Isa dan diperlihatkan kepada kaum Muslim.[4]

Detail tersebut menegaskan bahwa kematiannya merupakan peristiwa fisik. Dajjal bukan hanya gagasan yang dikalahkan secara simbolis. Ia mempunyai tubuh dan darah. Keduanya menjadi bukti bahwa manusia yang pernah meminta dunia menyebutnya Tuhan tetap merupakan makhluk.

Riwayat tidak menjelaskan bagian tubuh yang terkena, jumlah serangan, bentuk tombak, ataupun siapa yang kemudian menyimpan senjata tersebut. Sehingga semua itu selayaknya dibiarkan seperti adanya, tidak diketahui. Yang diperlukan hanyalah kenyataan bahwa Dajjal mati di tangan Nabi Isa.

Manusia yang mengaku mempunyai kuasa atas kehidupan tidak mampu menjaga kehidupannya sendiri. Manusia yang membuat negeri-negeri merasa tidak mempunyai jalan keluar tidak mampu membuka satu jalan lagi bagi pelariannya. Manusia yang meminta dunia memanggilnya Tuhan akhirnya terbaring sebagai makhluk, mempunyai tubuh, darah, batas, dan kematian.

Di gerbang Ludd, dunia melihat bentuk terakhir seorang manusia yang pernah meminta penyembahan.

Nabi Isa tidak mengambil kekuasaan Dajjal untuk kemudian meminta dunia menyembah dirinya. Beliau menghancurkan klaim tersebut dan mengembalikan manusia kepada tauhid.

Setelah Dajjal Mati

Setelah Dajjal dibunuh, orang-orang yang telah dijaga Allah mendatangi Nabi Isa. Beliau mengusap wajah mereka dan memberitahukan kedudukan mereka di Surga. Tidak lama kemudian, Allah mewahyukan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj serta memerintahkan Nabi Isa membawa orang-orang beriman menuju ath-Thur.[6]

Kematian Dajjal bukan akhir seluruh rangkaian akhir zaman. Ia menjadi akhir satu fitnah besar dan pembukaan ujian berikutnya.

Namun bagi kisah Dajjal, perjalanannya telah selesai. Ia bermula sebagai seorang manusia yang menunggu izin keluar. Ia berakhir sebagai manusia yang tidak memperoleh ruang untuk melarikan diri lebih jauh.

Di antara awal dan akhir itu, ia membuat dunia merasa dirinya dapat melakukan apa pun. Namun kedua ujung kisahnya mengatakan sebaliknya.

Dajjal tidak menentukan waktu keluarnya. Ia tidak menentukan kota yang dapat dimasukinya. Ia tidak menentukan panjang kekuasaannya. Ia tidak menentukan tempat kematiannya. Ia tidak mampu mempertahankan kehidupan ketika ketetapan terakhir datang.

Fitnahnya besar karena manusia melihat apa yang terjadi di antara awal dan akhir. Tauhid tetap tegak karena orang beriman mengingat siapa yang menentukan kedua batas itu.

Interlude: Gema Pendusta Akhir Zaman dalam Tradisi Lain

Antikristus dan Binatang dalam Teks Kristen

Figur penipu atau musuh akhir zaman tidak hanya dikenal dalam tradisi Islam.

Istilah Antikristus muncul secara eksplisit dalam surat pertama Yohanes. Teks tersebut menyatakan para pembacanya telah mendengar bahwa Antikristus akan datang, tetapi pada saat yang sama juga berbicara mengenai “banyak antikristus” yang telah muncul. Dalam konteks tersebut, istilah antikristus tidak hanya berfungsi sebagai nama satu tokoh masa depan, tetapi juga sebagai sebutan bagi para penentang ajaran mengenai Kristus.[17]

Kitab Wahyu membawa gambaran yang berbeda: figur binatang, tanda pada tangan atau dahi yang berkaitan dengan kemampuan membeli dan menjual, serta bilangan 666. Namun Kitab Wahyu tidak menggunakan kata Antikristus untuk figur binatang tersebut. Penyatuan kedua konsep itu berkembang dalam sejarah penafsiran Kristen.[17]

Karena itu, angka 666 dan tanda binatang bukan bagian dari hadis Islam mengenai Dajjal. Tulisan kafir pada wajah Dajjal juga tidak dapat otomatis disamakan dengan cip, kode batang, identitas digital, atau sistem pembayaran tertentu.

Didache dan Armilus

Sebuah karya Kristen awal yang dikenal sebagai Didache menyebut munculnya “penipu dunia” pada akhir masa. Sosok tersebut digambarkan datang dengan tanda dan keajaiban, sementara manusia menghadapi ujian yang sangat berat. Namun Didache tetap berasal dari tradisi tekstual Kristen dan tidak menjadi sumber tambahan bagi kronologi Islam.[18]

Dalam tradisi eskatologi Yahudi yang berkembang kemudian, dikenal pula tokoh bernama Armilus. Literatur tersebut menggambarkannya sebagai raja akhir zaman yang menentang Mesias, membawa penderitaan, dan akhirnya dikalahkan. Namun kisah Armilus memiliki banyak versi yang berkembang dalam sastra dan legenda Yahudi abad-abad kemudian.[19]

Armilus bukan nama lain Dajjal yang disebut dalam hadis. Detail-detail legenda mengenai asal-usul dan tubuhnya juga tidak dapat dipindahkan ke dalam ajaran Islam.

Persamaan Motif Bukan Identitas

Berbagai tradisi tersebut menyimpan pola yang mirip: pendusta, klaim keagamaan, tanda luar biasa, kekuasaan luas, penyesatan, serta kehancuran pada masa kedatangan Mesias atau zaman keselamatan. Namun persamaan pola tidak berarti semua tokoh dan rincian tersebut identik.

Tradisi lain dapat memberi konteks mengenai bagaimana masyarakat keagamaan membayangkan penipuan akhir zaman. Ia tidak boleh digunakan untuk menambahkan rincian kepada hadis Dajjal.

Angka 666 tidak boleh ditempelkan pada wajah Dajjal. Kisah Armilus tidak dapat digunakan untuk menciptakan masa kecil Dajjal. Skema waktu dari eskatologi agama lain tidak menggantikan hadis empat puluh hari. Tanda binatang dalam Kitab Wahyu juga tidak dapat diubah menjadi penjelasan pasti mengenai dua aliran atau tulisan kafir.

Tradisi lain dapat terdengar sebagai gema. Namun gema tidak boleh menggantikan suara utama. Dalam artikel mengenai pendusta terbesar, kejujuran terhadap sumber merupakan bentuk pertama perlindungan dari penipuan.

Epilog: Menjaga Hati Sebelum Fitnah Datang

Rasulullah ﷺ tidak menceritakan Dajjal hanya agar umat mempunyai sebuah kisah besar mengenai masa depan. Beliau memberi jalan perlindungan. Jalan tersebut tidak dimulai dengan mencari pulau, menebak tanggal kemunculan, atau menuduh tokoh dunia. Perlindungan dimulai di dalam salat, bersama Al-Qur’an, melalui pengetahuan, kerendahan hati, dan kesediaan menjauh dari fitnah.

Doa setelah Tasyahud

Rasulullah ﷺ mengajarkan seorang Muslim memohon perlindungan kepada Allah setelah tasyahud dari empat perkara: azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah al-Masih ad-Dajjal.[13]

Doanya berbunyi:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābi Jahannam, wa min ‘adzābil-qabr, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min syarri fitnatil-Masīḥid-Dajjāl.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta keburukan fitnah al-Masih ad-Dajjal.”

Seseorang mungkin tidak hidup sampai masa Dajjal. Namun doa perlindungan darinya ditempatkan dalam ibadah yang dilakukan setiap hari. Persiapan karena itu tidak menunggu peristiwa. Ia membentuk hati sejak sekarang.

Setiap kali membaca doa tersebut, seorang mukmin mengakui bahwa dirinya dapat tertipu, dapat menjadi lemah, dan tetap membutuhkan perlindungan Allah.

Dajjal meminta manusia menjadikan dirinya sebagai pusat keselamatan. Salat mengembalikan manusia kepada pusat yang sebenarnya.

Sebelum Dajjal meminta manusia tunduk kepadanya, seorang mukmin telah melatih tubuh dan jiwanya untuk hanya tunduk kepada Allah.

Sepuluh Ayat Surah al-Kahfi

Sahih Muslim menyatakan bahwa orang yang menghafal sepuluh ayat pertama Surah al-Kahfi akan dilindungi dari Dajjal. Dalam jalur lain terdapat variasi redaksi yang menyebut bagian akhir Surah al-Kahfi, sedangkan hadis an-Nawwas secara khusus mengarahkan orang yang menghadapi Dajjal membaca ayat-ayat pembukanya.[6][14]

Mekanisme perlindungan tersebut tidak dijelaskan secara teknis. Tidak diketahui apakah perlindungan berarti seseorang tidak pernah bertemu Dajjal, segera mengenalinya, tidak terpengaruh oleh fitnahnya, atau memperoleh beberapa bentuk penjagaan sekaligus.

Allah adalah Pelindung. Ayat merupakan sebab yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Namun, hafalan tidak boleh diperlakukan sebagai mantra yang mempunyai kekuatan terpisah dari Allah. Demikian pula sebaliknya, pemahaman juga tidak boleh diubah menjadi syarat tambahan yang tidak disebutkan dalam hadis.

Yang dinyatakan secara eksplisit adalah hafalan. Pemahaman dan penghayatan memperdalam kesiapan jiwa.

Sepuluh ayat pertama Surah al-Kahfi menegaskan Al-Qur’an sebagai kitab yang lurus, memperingatkan ucapan besar tanpa ilmu, menyebut perhiasan bumi sebagai ujian, dan memperkenalkan para pemuda yang memohon rahmat serta petunjuk ketika iman mereka berada di bawah tekanan.[16]

Secara reflektif, tema tersebut sangat dekat dengan fitnah Dajjal. Dajjal membawa kebengkokan, sementara Surah al-Kahfi dibuka dengan kitab yang lurus.

Dajjal menjadikan perhiasan bumi sebagai bukti, sementara surah tersebut mengingatkan bahwa kehidupan dunia menyerupai tanaman yang tumbuh karena hujan lalu menjadi kering dan diterbangkan angin.[16]

Dajjal menekan manusia agar menukar iman dengan rasa aman, sedangkan para penghuni gua meninggalkan kenyamanan masyarakat demi menjaga keyakinan.

Surah al-Kahfi juga membawa pelajaran mengenai ujian iman, kekayaan, keterbatasan pengetahuan, dan kekuasaan, wilayah-wilayah yang seluruhnya disentuh oleh fitnah Dajjal. Hafalan membawa ayat ke dalam ingatan. Pemahaman membawa ayat ke dalam cara manusia membaca dunia.

Menjauh Bukan Tanda Kelemahan

Sunan Abi Dawud memuat perintah agar orang yang mendengar mengenai Dajjal menjauh darinya. Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa seseorang dapat mendatanginya sambil mengira dirinya beriman, kemudian mengikuti Dajjal karena berbagai syubhat yang dibangkitkannya. Riwayat tersebut dinilai sahih.[15]

Ini membantah gambaran keberanian yang keliru. Keberanian bukan berarti sengaja mendekati fitnah untuk menguji kekuatan iman.

Nabi ﷺ tidak memerintahkan manusia mencari Dajjal agar dapat membuktikan keteguhan mereka. Beliau memerintahkan menjauh.

Menjauh bukan berarti seseorang lebih takut kepada Dajjal daripada kepada Allah. Ia berarti seseorang lebih memercayai petunjuk Rasulullah ﷺ daripada rasa percaya dirinya sendiri.

Manusia sering menilai keteguhannya berdasarkan godaan sebelum ia pernah benar-benar berdiri di hadapannya. Seseorang dapat berkata dirinya tidak mungkin tertipu. Namun ia belum melihat hujan turun setelah perintah Dajjal, tanahnya sendiri mengering, keluarganya membutuhkan makanan, air dan api bertukar hakikat, serta manusia yang dibunuh kembali berdiri.

Kerendahan hati yang menjauh dari fitnah dapat lebih kuat daripada kesombongan yang mendekatinya atas nama keberanian.

Kisah mukmin dari Madinah tidak membatalkan perintah umum tersebut. Ia adalah seorang hamba yang diberi keteguhan khusus dan memainkan peran yang telah diberitakan. Pengecualian yang dimuliakan tidak menghapus jalan perlindungan bagi manusia secara umum.

Mengenal Dajjal dan Mengenali Diri

Mengenal ciri-ciri Dajjal merupakan bagian dari perlindungan. Seorang mukmin mengetahui bahwa ia manusia, matanya cacat, tulisan kekafiran berada di wajahnya, Allah tidak mempunyai kekurangan seperti dirinya, ia tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah, dan ia pada akhirnya dibunuh Nabi Isa.

Pengetahuan tersebut menjadi pagar. Ketika Dajjal menampilkan sesuatu yang luar biasa, orang beriman tidak perlu mulai menilai identitasnya dari awal. Kabar Nabi ﷺ telah lebih dahulu menjelaskan hakikatnya.

Namun ilmu tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Seseorang mungkin menghafal seluruh ciri Dajjal, tetapi belum mengenali kelemahan di dalam dirinya sendiri.

Ia mengetahui tulisan pada dahi Dajjal, tetapi tidak mengetahui seberapa takut dirinya kepada kemiskinan. Ia mungkin memahami riwayat mengenai hujan, tetapi belum mengetahui seberapa cepat prinsipnya berubah ketika keluarga terancam. Ia dapat menjelaskan kedua aliran Dajjal, tetapi masih sangat mudah mengukur kebenaran berdasarkan keuntungan.

Persiapan karena itu tidak hanya bertanya seperti apa wajah Dajjal. Ia juga bertanya melalui pintu mana fitnah paling mungkin memasuki hati. Bagi seseorang, pintu masuknya adalah makanan. Bagi yang lain, pintunya adalah  keamanan. Bagi yang lain, pintu itu berupa status dan kekuasaan. Bagi yang lain, pintunya adalah rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang luar biasa. Dan bagi sebagian manusia lain, pintunya adalah kesombongan bahwa dirinya terlalu cerdas untuk tertipu. Orang yang merasa mustahil tertipu telah kehilangan satu lapis perlindungan bahkan sebelum fitnah datang.

Dari Teori Menuju Amal

Mempelajari Dajjal tidak seharusnya membuat manusia mencurigai setiap teknologi, menuduh setiap pemimpin, mencari pulaunya, menafsirkan setiap peperangan, atau hidup dalam kepanikan.

Petunjuk yang diberikan Nabi ﷺ sangat konkret: berdoa, menghafal ayat, membaca bagian pembuka Surah al-Kahfi ketika menghadapinya, menjaga salat, menjauh dari pusat fitnah, mengenali cirinya, dan memohon perlindungan Allah.

Tidak satu pun memerlukan teori organisasi rahasia, numerologi, ramalan tanggal, atau pencocokan nama.

Semakin jauh manusia bergerak dari amal yang diajarkan dan semakin sibuk menebak rahasia yang tidak diterangkan, semakin besar kemungkinan pembahasan akhir zaman kehilangan tujuannya.

Ilmu mengenai Dajjal seharusnya menghasilkan salat yang lebih sadar, doa yang lebih sungguh-sungguh, hubungan yang lebih dekat dengan Al-Qur’an, kerendahan hati, serta kemampuan membedakan keuntungan dari kebenaran. Bukan sekadar koleksi teori.

Ketika Kebohongan Tampak seperti Keselamatan

Orang yang selamat dari fitnah Dajjal bukan orang yang berhasil memecahkan seluruh misteri akhir zaman. Bukan orang yang menemukan pulaunya. Bukan orang yang menghitung tanggal kemunculannya. Bukan orang yang paling cepat menuduh seseorang sebagai Dajjal.

Orang yang selamat dari fitnah Dajjal adalah orang yang mengenal Tuhannya sebelum seorang pendusta meminta dirinya disembah. Ia yang mengetahui bahwa hujan tidak menentukan kebenaran, kekayaan tidak menciptakan ketuhanan, peristiwa luar biasa tidak mengubah makhluk menjadi Khalik. Dan ia yang menyadari bahwa apa yang tampak di depan mata tidak selalu berhak menjadi hakim terakhir atas jiwa.

Maka ia pun berdoa sebelum fitnah datang, menjaga ayat sebelum dunia kehilangan arah, dan menjauh ketika diperintahkan menjauh. Ia belajar membedakan pemberian Allah dari klaim orang yang menggunakan pemberian itu untuk meninggikan dirinya.

Setelah melakukan seluruhnya, ia tidak bersandar hanya kepada hafalan, kecerdasan, ataupun keteguhan dirinya. Ia bersandar kepada Allah.

Dajjal membuat manusia percaya bahwa kehidupan berada di tangannya, padahal ia sendiri pernah menunggu dalam belenggu. Ia membuat manusia merasa bumi tunduk kepadanya, padahal dua kota berada di luar kuasanya. Ia membuat manusia mengira kematian dan kehidupan berada dalam perintahnya, padahal ketika kematiannya sendiri datang, ia tidak mampu menundanya. Ia membuat perjalanannya terlihat seolah-olah tidak mempunyai batas, padahal perjalanan itu berakhir pada satu gerbang. Ia meminta manusia memanggilnya Tuhan, tetapi mati dengan darah pada tombak seorang nabi yang tetap menyebut dirinya hamba Allah.

Kebohongan Dajjal tampak seperti keselamatan karena ia menawarkan kepada manusia apa yang paling mereka takuti, yaitu kehilangan. Perlindungan darinya dimulai ketika manusia mengetahui bahwa keselamatan tidak pernah berada di tangan selain Allah.

Catatan Kaki dan Referensi

Sumber Primer Islam

[1] Sahih al-Bukhari no. 7408 dan Sahih Muslim no. 2933a mengenai peringatan seluruh nabi, cacat mata Dajjal, perbedaan Dajjal dari Allah, dan tulisan kāfir. Sahih Muslim no. 2946a mengenai besarnya fitnah Dajjal sejak penciptaan Adam hingga Hari Kiamat.

[2] Sahih Muslim no. 2936 mengenai sesuatu yang menyerupai Surga dan Neraka; Sahih Muslim no. 2934b mengenai dua aliran yang tampak sebagai air dan api, hakikat keduanya yang berlawanan, serta tulisan yang dibaca setiap mukmin.

[3] Sahih Muslim no. 2942a, hadis Fatimah binti Qais mengenai pelayaran Tamim ad-Dari, al-Jassasah, Dajjal yang terbelenggu, pertanyaan tentang Baisan, Danau Tiberias, mata air Zughar, Nabi yang ummi, larangan memasuki Makkah dan Madinah, serta penunjukan arah timur.

[4] Sahih Muslim no. 2897 mengenai al-A‘maq atau Dabiq, penaklukan Konstantinopel, kabar palsu tentang Dajjal, kemunculannya yang sebenarnya di Syam, turunnya Nabi Isa, Dajjal yang larut seperti garam, dan darah pada tombak.

[5] Jami‘ at-Tirmidhi no. 2237 mengenai keluarnya Dajjal dari wilayah timur bernama Khurasan. Imam at-Tirmidhi menyebutnya hasan gharib; edisi Darussalam memberi penilaian hasan.

[6] Sahih Muslim no. 2937a, hadis an-Nawwas bin Sam‘an mengenai ciri Dajjal, jalur Syam–Irak, empat puluh hari, perhitungan waktu salat, perjalanan seperti awan, hujan dan kekeringan, keluarnya harta bumi, pemuda yang dipotong, turunnya Nabi Isa di timur Damaskus, dan kematian Dajjal di gerbang Ludd.

[7] Penjelasan Imam an-Nawawi dan al-Qadhi ‘Iyadh dalam syarah Sahih Muslim mengenai penyelarasan riwayat cacat mata kanan dan kiri Dajjal, serta penegasan bahwa perkara-perkara luar biasa yang menyertainya terjadi dengan kuasa dan kehendak Allah sebagai ujian.

[8] Sahih Muslim no. 2944 mengenai tujuh puluh ribu orang Yahudi Isfahan yang mengikuti Dajjal dengan mengenakan tayālisah. Teks Arab tidak menyebut warna pakaian tersebut.

[9] Sahih al-Bukhari no. 1881 mengenai perlindungan Makkah dan Madinah, penjagaan malaikat, serta tiga guncangan Madinah; Sahih Muslim no. 1380 mengenai Dajjal yang datang dari timur menuju Madinah, berhenti di belakang Uhud, lalu dipalingkan menuju Syam.

[10] Sahih Muslim no. 2938a dan 2938c mengenai mukmin yang menemui Dajjal di dekat Madinah, kesaksiannya, pembunuhan dan penghidupan kembali, ketidakmampuan Dajjal membunuhnya untuk kedua kali, serta komentar Abu Ishaq bahwa laki-laki itu dikatakan sebagai Khidir.

[11] Sahih Muslim no. 156 mengenai pemimpin kaum Muslim yang mempersilakan Nabi Isa mengimami salat dan penolakan beliau mengambil alih posisi itu; Sahih al-Bukhari no. 3449 mengenai turunnya putra Maryam ketika imam umat berasal dari kalangan mereka.

[12] Sunan Abi Dawud no. 4284 mengenai Mahdi sebagai keturunan Fatimah, dinilai sahih; Sunan Abi Dawud no. 4285 mengenai keadilan dan masa kepemimpinannya selama tujuh tahun, dinilai hasan dalam edisi yang dirujuk.

[13] Sahih Muslim no. 588a mengenai doa setelah tasyahud untuk memohon perlindungan dari azab Jahanam, azab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, serta fitnah al-Masih ad-Dajjal.

[14] Sahih Muslim no. 809a mengenai hafalan sepuluh ayat pertama Surah al-Kahfi; Sahih Muslim no. 809b mengenai variasi redaksi bagian awal atau akhir surah.

[15] Sunan Abi Dawud no. 4319 mengenai perintah menjauh dari Dajjal karena seseorang dapat mendatanginya dengan mengira dirinya beriman lalu tertipu oleh syubhat. Riwayat tersebut dinilai sahih dalam edisi yang dirujuk.

[16] Al-Qur’an, Surah al-Kahfi ayat 1–8 mengenai kitab yang lurus dan perhiasan bumi sebagai ujian; ayat 45–46 mengenai kefanaan kehidupan dunia; serta ayat 103–110 mengenai manusia yang mengira dirinya berbuat baik dan penegasan tauhid pada penutup surah.

Referensi Tradisi Perbandingan

[17] 1 Yohanes 2:18 mengenai Antikristus yang akan datang dan “banyak antikristus”; Kitab Wahyu pasal 13 mengenai figur binatang, tanda yang berkaitan dengan kegiatan membeli dan menjual, serta bilangan 666. Kedua kumpulan istilah tersebut berasal dari konteks tekstual yang berbeda.

[18] Didache, pasal 16, mengenai “penipu dunia”, tanda-tanda luar biasa, dan ujian pada akhir masa.

[19] Jewish Encyclopedia, “Armilus,” mengenai perkembangan figur Armilus dalam eskatologi dan legenda Yahudi kemudian sebagai lawan Mesias yang akhirnya dikalahkan.

Views: 0

Leave a Reply