Merasa Bangga dengan Amal Ibadah itu Akhlak Tercela

Merasa bangga dengan amal ibadah adalah hal yang sering dianggap tidak serius oleh sebagian muslim. Hal ini akibat ketidaktahuan, ketidakpedulian, kurangnya sikap hati-hati, senang meremehkan dosa, tidak adanya rasa takut kepada Allah SWT, dan sebagainya. Seseorang yang merasa bangga dengan amal ibadahnya itu artinya, ia merasa telah berbuat banyak untuk Allah SWT. Padahal, sebanyak apa pun amal ibadah yang diperbuat oleh seorang hamba, maka itu tidak akan pernah sebanding dengan kewajibannya untuk bersyukur kepada Allah SWT atas satu nikmat saja yang telah dikaruniakan oleh-Nya.

Contoh salah satu nikmat itu adalah nikmat bisa bernafas. Nikmat ini tidak akan pernah bisa ditebus dengan amal ibadah apa pun yang dilakukan oleh si hamba itu seumur hidupnya. Itu baru satu nikmat, sedangkan nikmat itu banyak sekali dan setiap hamba diwajibkan untuk mensyukuri setiap nikmat itu.

Selain itu, ada hal sangat penting yang harus dipahami, sebagai bekal utama agar tidak merasa bangga dengan amal ibadah yang dilakukan. Pada hakikatnya, seluruh amal ibadah yang lakukan seorang hamba itu juga merupakan nikmat karunia Allah SWT. Dia-lah yang telah memampukan hamba itu untuk beramal ibadah dengan karunia-Nya. Dia-lah yang telah menunjukkan jalan yang lurus kepada hamba-Nya, sehingga ia bisa melaksanakan amal ibadah. Siapa yang memberinya ilham untuk melaksanakan amal ibadah? Siapa yang memasukkan keinginan untuk mengerjakan amal ibadah itu ke dalam hati seorang hamba? Tiada lain tiada bukan hanya Allah SWT. Tanpa kehendak-Nya, tanpa izin-Nya, niscaya seorang hamba tidak akan kuasa untuk melaksanakan amal ibadah apa pun.

Allah SWT berfirman: “Dia memberi hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Q.S. Al-Baqarah: 269)

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (Q.S. Al-An’am: 39)

Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?” Katakanlah (Muhammad), “Milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (Q.S. Al-Baqarah: 142)

Dan pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus.” (Q.S. An-Nisa’: 68)

Allah SWT juga memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya agar senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya untuk selalu bisa berada di jalan yang lurus. Hal ini telah disebutkan dalam firman-Nya: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 5 – 6)

Ketika untuk bisa berada di jalan yang lurus dan beramal ibadah saja seorang hamba tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT, itu artinya hanya Dia-lah tempat bergantung yang menjadi sandaran agar bisa selamat dari setan dan tetap berada di jalan yang lurus. Seorang hamba pada hakikatnya tidak punya kekuatan sendiri tanpa pertolongan-Nya. Oleh karenanya, bagaimana mungkin seorang hamba bisa merasa bangga dengan amal ibadah yang pada hakikatnya juga merupakan bagian dari nikmat karunia-Nya? Bagaimana bisa seorang hamba merasa telah berbuat banyak untuk membalas nikmat-nikmat Allah SWT yang tak terhingga? Padahal, seluruh amal ibadah itu sendiri merupakan salah satu nikmat karunia-Nya juga. Sekali lagi, amal ibadah itu bisa terlaksana hanya karena Allah SWT yang menghendakinya, mengizinkannya, dan memampukannya untuk beramal ibadah.

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (Q.S. Al-An’am: 39)

Kalau pun seorang hamba pada akhirnya mampu bersyukur atas segala nikmat-Nya, maka siapakah yang memberinya ilham untuk bersyukur? Sudah tentu Allah SWT. Seandainya Dia tidak memberi nikmat yang berupa ilham untuk bersyukur, niscaya seorang hamba tidak akan mampu untuk bersyukur. Bahkan, kemampuan untuk bisa bersyukur itu pun juga merupakan salah satu nikmat karunia-Nya. Seseorang bisa menjadi muslim, itu juga hanya karena petunjuk, izin, dan karunia-Nya. Allah SWT menghendaki si hamba itu mendapat petunjuk, itu saja sudah merupakan salah satu nikmat karunia-Nya. Allah SWT tidak menyesatkannya saja, itu juga sudah suatu nikmat tak terhingga yang tak ternilai. Jadi, apa yang bisa dibanggakan dari segala amal ibadah, kemampuan bersyukur, kemampuan untuk berada di jalan yang benar, dan sebagainya, kalau semua itu pun milik Allah SWT dan hanya karena kehendak-Nya semata, bukan milik manusia sebagai hamba-Nya?

Allah SWT berfirman: “(Alquran) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (Q.S. At-Takwir: 27 – 29)

Sungguh, (ayat-ayat) ini adalah peringatan, maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju Tuhannya. Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

Q.S. Al-Insan: 29 – 30

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Q.S. Ibrahim: 4)

Kalau hanya untuk melaksanakan kewajiban bersyukur atas satu nikmat saja tidak akan cukup ditebus dengan ibadah seumur hidup, apalagi untuk sampai pada tahap merasa bangga atas amal ibadahnya, atau bahkan sampai pada tahap memamerkan amal ibadahnya. Merasa bangga dengan amal ibadah yang ia sendiri tidak kuasa melakukannya kalau bukan karena pertolongannya adalah perbuatan tercela. Apalagi kalau sudah sampai pada tahap pamer, maka itu merupakan akhlak yang sangat tercela di hadapan-Nya. Silakan baca: Keutamaan Menyembunyikan Amal Ibadah.

Seseorang yang mengetahui kalau dirinya hanyalah hamba Allah SWT, ia akan merasa malu untuk menyebut-nyebut amal ibadah dan amal salehnya yang pada hakikatnya merupakan karunia/pemberian-Nya. Analoginya adalah seperti seorang pekerja yang dipinjami kalung berlian mahal oleh majikannya. Sementara kalau ia membeli kalung berlian itu dengan gajinya sendiri, sudah tentu ia tidak akan sanggup. Si pekerja itu kemudian merasa bangga bisa mengenakannya, bahkan ia pun memamerkan kalung berlian pinjaman dari majikannya itu ke teman-temannya sesama pekerja. Jadi, apa sebenarnya yang ia banggakan, padahal kalung berlian itu hanya pinjaman, bukan miliknya? Jadi, apa yang patut ia banggakan apabila ia sendiri sebenarnya tidak sanggup membeli kalung berlian mahal itu kalau hanya mengandalkan kemampuannya (gajinya) sendiri? Kalau bukan karena kemurahan hati dan izin majikannya yang membolehkannya mengenakan kalung berlian itu, maka ia tidak akan bisa mengenakan kalung berlian itu. Jadi apanya yang patut dibanggakan? Lantas, untuk apa ia sibuk memamerkan kalung berlian pinjaman yang bukan miliknya itu?

Seorang hamba sejati akan senantiasa sibuk untuk mengusir perasaan bangga yang muncul dalam hatinya setiap kali dirinya bisa melaksanakan amal saleh. Ia tidak akan membiarkan rasa bangga itu bersemayam di hatinya. Bahkan, untuk bisa mengusir rasa bangga dari hatinya saja, ia pun akan senantiasa bergantung pada pertolongan Allah SWT. Lalu yang mana yang harus dibanggakan kalau semua dan segala sesuatunya itu hanya bergantung kepada pertolongan Allah SWT, atas kehendak-Nya, dan atas karunia-Nya?

Ibnu Atha’illah As-Sakandary (dalam Kitab Al-Hikam) berkata: “Allah melarang engkau mengakui apa-apa yang bukan hakmu dari hak-hak orang lain. Lalu apakah mungkin Ia membolehkanmu mengakui sifat-sifat Allah padahal ia Tuhan yang memelihara, mengatur, dan menjamin seluruh alam.

Janganlah engkau merasa gembira atas perbuatan taat karena engkau merasa dapat melakukannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan taat itu karena perbuatan taat itu sebagai karunia dari Allah kepadamu. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bergembira. Itulah yang lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Ibnu Atha’illah as-sakandary

Allah SWT berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Yunus: 58)

Adab (sopan santun) seorang hamba kepada Allah SWT

Seseorang yang merasa bangga dengan amal ibadahnya berarti ia hamba yang tidak tahu bersyukur dan tidak menyadari kalau kedudukannya hanyalah sebagai hamba-Nya. Ia bukan makhluk yang berkuasa di hadapan-Nya. Hamba yang baik adalah hamba yang menyadari dan mengakui sifat-sifat kehambaannya[1]. Sebaliknya, hamba yang jahil/bodoh adalah hamba yang tidak menyadari sifat-sifat kehambaannya sendiri, yaitu yang tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan kehendak-Nya.

Allah SWT berfirman: “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan “Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah” (Q.S. Al-Kahf: 39)

Lebih jahil/bodoh lagi kalau ia merasa seolah-olah memiliki kekuatan sendiri, kekuasaan, dan kemuliaan yang sesungguhnya merupakan sifat-sifat Allah SWT.Oleh karena itulah Allah SWT membenci orang yang suka membanggakan diri. Baca juga: Ciri Orang yang Sombong (Takabur).

Allah SWT berfirman: “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,” (Q.S. Al-hadid: 23)

Allah SWT berfirman dalam sebuah hadits Qudsi: “Kesombongan itu adalah selendang-Ku dan kebesaran itu adalah sarung-Ku, maka siapa yang bersaingan dengan Aku dalam salah satu sifat itu, pasti Aku akan melemparkannya ke dalam api neraka.” (H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Ibnu Atha’illah As-Sakandary (dalam Kitab Al-Hikam) berkata: “Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk menghilangkan nikmat itu, dan siapa yang mensyukurinya berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat/kukuh.

Adapun yang disebut bersyukur adalah menggunakan nikmat karunia yang diberikan Allah SWT sesuai dengan tujuan-Nya memberikan nikmat karunia tersebut. Sebagian ulama juga ada yang mengatakan bahwa bersyukur adalah merasa senang hati atas nikmat karunia yang diberikan Allah SWT. Rasa senang hati itu kemudian menyebar ke seluruh badannya, sehingga seluruh anggota badannya tergerak untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Merasa Bangga dengan Amal Ibadah itu Akhlak Tercela

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa merasa bangga dengan amal ibadah itu akhlak tercela. Allah SWT membenci seorang hamba yang senang membanggakan dirinya, amalnya, hartanya, kedudukannya, dan berbagai bentuk perbuatan berbangga-bangga lainnya. Hamba yang dibenci oleh Allah SWT hidupnya tidak akan berkah. Walaupun pada lahirnya, dimata manusia, ia terlihat banyak beramal ibadah, namun hamba yang dibenci oleh Allah SWT itu rendah kedudukannya di hadapan Allah SWT.

Seorang hamba yang merasa bangga dengan amal ibadahnya hendaknya merasa takut akan berkurangnya nikmat imannya kalau tidak juga bertobat. Contohnya adalah seorang hamba yang sangat rajin dan bersemangat melaksanakan salat tahajud. Ia lantas merasa bangga atas kerajinannya melaksanakan salat tahajud. Ia menganggap dirinya sebagai orang yang lebih rajin salat tahajud dibanding orang lain. Ia pun menunjukkan kepada orang lain kalau dirinya suka bangun malam untuk bertahajud. Beberapa waktu kemudian, hatinya mulai dihinggapi rasa malas untuk bangun malam. Matanya terasa berat sekali untuk bangun malam melaksanakan tahajud. Semangat bertahajudnya pun tidak sebesar dahulu. Inilah salah satu tanda bahwa Allah SWT telah mencabut rasa manisnya salat tahajud dari hatinya, sehingga hatinya dihinggapi rasa malas. Hal itu akibat dirinya melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT, yaitu berbangga-bangga dengan amal ibadahnya kemudian memamerkannya. Maka dari itu, ia hendaknya bertobat dari sikap membanggakan amal ibadahnya, dan mudah-mudahan Allah SWT mengembalikan rasa manisnya ibadah itu ke dalam hatinya, sehingga ia tidak dihinggapi rasa malas melaksanakan ibadah.

Seorang hamba hendaknya senantiasa berusaha menghilangkan rasa bangga atas amal kebaikan (amal saleh)nya dengan merasa takut akan kehilangan nikmat itu kalau ia merasa bangga (tidak bersyukur). Setiap kali setan meniupkan bisikan tercela sehingga ia merasa bangga dengan amal ibadah yang dilakukannya, seorang hamba hendaknya senantiasa berusaha mengenyahkan perasaan itu dan senantiasa bertobat kepada-Nya. Ia harus senantiasa memohon pertolongan kepada Allah SWT agar Dia menyelamatkan dirinya dari rasa bangga yang dapat merusak amal-amal ibadahnya dan mengancam nikmat iman yang dimilikinya.

Merasa bangga dengan amal ibadah juga akan menyebabkan hati menjadi mati sehingga sulit memperbaiki kualitas ruhaninya, kemudian juga bisa menyebabkan rusaknya pahala amal-amal ibadahnya, bahkan bisa menyebabkan seorang hamba terlempar ke dalam api neraka apabila tidak bertobat.

Demikianlah pembahasan mengenai tercelanya merasa bangga dengan amal ibadah (saleh). Semoga bermanfaat dan semoga Allah SWT senantiasa menyelamatkan kita (dengan rahmat-Nya) dari segala bentuk perilaku membanggakan diri dan amalan. Amiiin. Wallahu a’lam.


[1] Musa Turoichan al-Qudsy dalam Terjemah Syarah Al-Hikam hal. 125

Referensi:

Al-Iskandari, Ibnu Atha’illah. Tidak Bertahun. Al-Hikam Kitab Tasawuf Sepanjang Masa (Tasyrih: Syekh Abdullah asy-Syarqawi al-Khalwati). Firdaus, Iman Lc (Penerjemah). 2014. Turos Pustaka: Jakarta.

Al-Muhasibi, Abu Abdullah al-Harits bin Asad. Tidak Bertahun. Nasihat-nasihat Sang Sufi. Zuhri, Saifuddin (Penerjemah). 2000. Pustaka Hidayah: Bandung.

Al-Qudsy, Musa Turoichan. Terjemah Syarah Al-Hikam (karya Ibnu Atha’illah as-Sakandary). 2005. Ampel Mulia: Surabaya.

Hits: 528

Leave a Reply