Memilih Teman dalam Islam

Dalam konsepsi Islam, persahabatan dan persaudaraan sebagai salah satu bentuk hablun minannas merupakan salah satu perkara paling utama untuk diperhatikan. Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits telah diterangkan secara eksplisit mengenai prinsip-prinsip etika persahabatan dan cara memilih teman yang sesuai dengan syariat Islam. Lalu bagaimana cara memilih teman dalam Islam berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan Hadits itu?

Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka seseorang di antara kalian agar melihat siapakah yang ditemaninya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim)

Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW di atas, gugurlah pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa seseorang itu tidak boleh pilih-pilih dalam bergaul. Pendapat seperti itu jelas tidak bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits. Sebagai seorang muslim, hendaknya setiap pendapat kita selalu berlandaskan pada aturan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Rasulullah SAW telah memperingatkan bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan siapakah orang yang ditemaninya, sehingga sudah selayaknya kita mengikuti anjuran Rasulullah SAW, bukan anjuran manusia lainnya.

Rasulullah SAW telah menegaskan dalam sabdanya bahwa seorang muslim harus benar-benar memperhatikan siapakah orang yang menjadi temannya. Ikatan pertemanan atau persahabatan itu saling percaya mempercayai dan pengaruh mempengaruhi. Apabila teman atau sahabat itu baik, maka akan baiklah pengaruh itu. Sebaliknya, apabila teman atau sahabat itu buruk, maka akan buruk pulalah pengaruhnya.

Dalam Islam, yang dikatakan tidak pilih-pilih adalah cara kita memperlakukan sesama manusia. Seperti sabda Rasulullah SAW: “Bertaqwalah kepada Allah, dan ikutilah kejelekan itu dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan itu. Pergaulilah manusia itu dengan budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Usamah bin Syarik pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah yang terbaik kami berikan kepada manusia?” Rasulullah SAW menjawab: “Yang terbaik kamu berikan kepada manusia adalah akhlak yang baik.” (HR Ahmad)

Berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW di atas, yang menjadi prinsip pokok hablun minannas (hubungan antar sesama manusia) adalah seorang muslim hendaknya memperlakukan sesama manusia dengan budi pekerti (akhlak yang baik) tanpa membedakan status sosial keduniaan apakah orang itu kaya atau miskin, apakah dia pejabat atau rakyat, apakah dia orang yang mendengki atau menyenangi kita, semua harus diperlakukan dengan budi pekerti yang baik.

Pada saat kita membicarakan mengenai berlaku baik kepada sesama, maka contoh memperlakukan sesama manusia dengan budi pekerti yang baik adalah, bersikap ramah ketika bertemu (sesuai syariat Islam tentunya, silakan baca artikel: menyambung silaturrahmi dengan keluarga dan sanak kerabat), membantu mereka ketika mereka sedang ditimpa kesulitan (dalam perkara yang tidak melanggar hukum agama dan hukum negara tentunya, serta sesuai kemampuan kita), menjenguk apabila mereka sakit, mengusahakan datang apabila diundang pada acara mereka (pada acara yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, kalau kita dapat menghadirinya), bertakziah apabila ada yang meninggal dunia, tidak membicarakan kejelekan-kejelekannya, tidak mengumpat atau mencela, bersikap rendah hati (tidak sombong atau pamer) kepada mereka, mendamaikan apabila ada yang berselisih (kalau kita kuasa melakukannya), dan sejenisnya.

Akan tetapi pada saat kita membicarakan tentang menjadikan seseorang sebagai teman atau sahabat, maka lain cerita. Dalam pertemanan atau persahabatan itu, artinya kita memiliki ikatan rasa pesaudaraan, rasa kasih sayang, dan kepercayaan, yang membuat kita menjadikan orang itu sebagai orang kepercayaan, tempat berbagi masalah dan pemikiran, menceritakan perihal yang pribadi (rahasia), berkeluh kesah, dan sejenisnya, sehingga kita sebagai seorang muslim harus benar-benar memperhatikan siapa yang kita jadikan sebagai sahabat atau teman.

Allah SWT berfirman: “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 8)

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim.” (Q.S. Al-Mumtahanah: 9)

Dengan demikian, berdasarkan firman Allah SWT tersebut, boleh berbuat baik (berbudi pekerti yang baik) dan berbuat adil kepada manusia yang tidak memusuhi agama Allah, sedangkan yang dilarang adalah menjadikan mereka (orang-orang yang memusuhi agama Allah) sebagai teman (sahabat).

Rasulullah SAW bersabda: “Di antara yang akan dapat menyelamatkan seseorang adalah bersahabat dengan orang-orang yang shaleh.” (HR Hakim)

Berdasarkan hadits tersebut, Rasulullah SAW memberikan petunjuk bahwa tidak semua orang dapat kita jadikan teman atau sahabat. Beliau SAW menasehatkan kepada umatnya agar memilih sahabat dari golongan orang-orang yang shaleh sebab hal itu akan lebih selamat.

Berikut ini akan dibahas lebih jauh mengenai kriteria memilih teman dalam Islam dan kriteria orang-orang yang sebaiknya dihindari untuk dijadikan sebagai teman atau sahabat berdasarkan prinsip Islam.

Golongan Orang yang Sebaiknya Dihindari

Orang Musyrik

Dan sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Muhammad) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya, niscaya mereka tidak akan menjadikan orang musyrik itu sebagai teman setia. Tetapi banyak di antara mereka, orang-orang yang fasik. Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.S. Al-Maidah: 81 – 82)

Dalam ayat di atas Allah SWT telah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak berteman dengan orang-orang musyrik. Bedakan dengan konteks berbuat baik kepada mereka. Walaupun Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menjadikan orang musyrik sebagai teman atau sahabat, orang-orang yang beriman tetap diperintahkan untuk berbuat baik kepada mereka dalam hal menunaikan hak dan kewajiban antar sesama manusia. Sekali lagi kita harus bisa membedakan dan memilah antara kewajiban berbuat baik kepada sesama manusia dengan kewajiban memilih teman atau sahabat yang sesuai dengan prinsip Islam.

Orang yang Zalim

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berteman dengan sesamanya, sesuai denganl apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’am: 129)

Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai sahabat? Orang-orang itu bukan dari (kaum) kamu dan bukan dari (kaum) mereka. Dan mereka bersumpah atas kebohongan, sedang mereka mengetahuinya.” (Q.S. Mujadilah: 14)

Dalam ayat-ayat di atas, Allah telah menerangkan bahwa perangai seseorang dengan temannya itu serupa. Allah menjadikan teman untuk orang yang zalim adalah dari golongan orang yang zalim pula. Lebih lanjut lagi, Allah telah mensifati orang-orang yang menjadikan golongan orang yang dimurkai Allah sebagai sahabat adalah orang-orang munafik. Oleh karena itulah Allah SWT melarang orang-orang yang beriman untuk berteman (bersahabat) dengan golongan orang yang zalim.

Orang Jahil (Bodoh)

Allah SWT melarang orang-orang yang beriman untuk berteman dengan orang-orang yang jahil (bodoh), maksudnya adalah orang-orang yang membelakangi agama, orang-orang suka mengganggu orang-orang yang beriman dengan kata-katanya, makian, atau perlakuan yang menyakitkan, seperti dalam firman-Nya: “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, semoga kesejahteraan atas kalian, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang-orang jahil (bodoh).” (Q.S. Al-Qashash: 55)

Dalam ayat di atas Allah SWT mengajarkan kepada orang-orang yang beriman agar tidak berteman dengan orang-orang jahil (bodoh). Allah SWT juga mengajarkan agar orang-orang yang beriman mengabaikan mereka, tidak meladeni ulah mereka, berpaling dari mereka, tetapi tetap dengan menunjukkan akhlak yang baik, yaitu dengan mendoakan kebaikan bagi mereka.

Orang yang Bengis

Orang-orang yang beriman sebaiknya juga menghindari berteman dengan orang bengis. Salah satu tanda orang yang bengis adalah orang yang lidahnya tajam sehingga tutur katanya menyakitkan. Dari Abu Bakrah, Rasulullah SAW bersabda: “Malu itu sebagian dari iman, sedangkan iman itu akan masuk syurga. Ketajaman lidah adalah sebagian dari sifat bengis, sedangkan kebengisan itu akan masuk neraka.” (HR Bukhari)

Orang Munafik

Orang-orang yang beriman juga sebaiknya tidak bersahabat dengan golongan orang munafik. Menurut Abdullah bin Muhammad bin Manajil, beliau pernah mendengar Abu Saleh berkata, “Orang mukmin itu akan menemanimu dengan baik, dan akan menunjukkan kemaslahatan agama dan duniamu. Adapun orang munafik akan menemanimu dengan mencampuri urusanmu dengan tanpa batas, dan akan menunjukkan kepada sesuatu yang dikehendaki oleh keinginan nafsu syahwatmu. Orang yang terpelihara adalah orang yang dapat membedakan antara keduanya.” (lihat: Al-Salma, Abu Abdurrahman dalam Berbagi Cinta dengan Para Sufi. hal. 31)

Orang-orang yang mendustakan Al-Qur’an, tukang sumpah serapah, tukang cela, tukang fitnah, orang yang tidak suka berbuat baik, orang yang bertabiat kaku dan kasar, dan orang yang memang dikenal jahat

Allah SWT melarang orang-orang yang beriman untuk bersahabat dengan orang-orang yang mendustakan Al-Qur’an, tukang sumpah serapah, tukang cela, tukang fitnah, orang yang tidak suka berbuat baik, orang yang bertabiat kaku dan kasar, dan orang yang memang dikenal jahat, seperti disebutkan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Tuhanmu, Dia- lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia- lah Yang Paling Mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk. Maka janganlah kamu ikuti orang- orang yang mendustakan ( ayat-ayat Allah ). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak ( pula kepadamu ). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, Yang  banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, Yang  sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, Yang  kaku, kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, Karena  dia mempunyai ( banyak ) harta dan anak.” (Q.S. Al-Qalam : 7 – 14)

Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah orang mukmin orang yang selalu mencela, mengutuk, berkata keji, dan berkata kotor.” (HR. Bukhari – Muslim)

Sesungguhnya, sejahat-jahat kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat, yaitu orang yang dijauhi oleh orang lain lantaran takut akan kejahatan orang itu.” (HR. Bukhari – Muslim)

Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu dan hanya mengikuti para setan yang sangat jahat, (tentang setan), telah ditetapkan bahwa siapa yang berkawan dengan dia, maka dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.” (Q.S. Al-Hajj: 3 – 4)

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi: 28)

Golongan Orang yang Patut Dijadikan Teman (Sahabat)

Orang-orang yang Bertaqwa

Berteman atau bersahabat dengan orang-orang yang bertakwa merupakan pertemanan atau persahabatan yang abadi karena pertemanan itu akan terus berlanjut hingga di alam akhirat kelak. Hal ini seperti disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya: “Apakah mereka hanya menunggu saja kedatangan hari kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak, sedang mereka tidak menyadarinya? Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertaqwa.” (Q.S. Az-Zukhruf: 66 – 67)

Rasulullah SAW bersabda: “Manusia yang paling mulia yaitu yang paling bertaqwa di antara mereka.” (HR. Bukhari – Muslim)

Orang-orang Shaleh

Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shaleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S. An-Nisa: 69)

Ibnu Attho’illah As-Sakandary dalam Al-Hikam berkata: “Dan sekiranya engkau berteman dengan orang bodoh yang tidak suka memperturutkan hawa nafsunya, itu lebih baik daripada engkau berteman dengan orang alim yang suka memperturutkan hawa nafsunya. Ilmu apakah yang dapat disematkan kepada orang alim yang suka memperturutkan hawa nafsunya itu. Sebaliknya, kebodohan apakah yang dapat disematkan kepada orang yang dapat mengekang (menahan) hawa nafsunya.”

Maksud dari perkataan tersebut adalah berteman atau bersahabat dengan orang bodoh (baca: orang yang tidak mengerti ilmu-ilmu keduniaan, seperti pengetahuan tentang alam semesta, kedokteran, teknologi, dll.), tetapi orang bodoh itu tidak suka mengikuti hawa nafsunya, bisa mengekang (menahan) hawa nafsunya adalah lebih baik. Apabila seseorang itu mampu mengekang nafsunya, maka itu artinya ia telah meresapkan keluhuran ilmu agama yang diajarkan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Oleh karenanya, ia bukanlah orang yang bodoh, melainkan orang berjiwa mulia yang patut untuk dijadikan sebagai sahabat sejati.

Demikian pula sebaliknya, apalah arti ilmu-ilmu yang tidak mampu membuat dirinya mengekang nafsunya. Disebut ilmu apakah yang membuat orang itu tetap saja mengikuti nafsu-nafsu yang tidak dibenarkan dalam syariat Islam. Dengan demikian, bergaul dengannya sangat berbahaya sebab teman itu saling pengaruh mempengaruhi.

Orang yang Berakhlak Mulia

Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kamu yaitu yang paling baik keadaan akhlak (budi pekerti)nya.”(HR. Bukhari – Muslim)

Sirri Al-Saqathi mengatakan, “Di antara akhlak orang-orang yang mulia adalah berhati tenteram dan selalu menasehati saudaranya.”

Ibnu Attho’illah As-Sakandary dalam Al-Hikam berkata, “Kemungkinan engkau berbuat kekeliruan (dosa), maka ditampakkan kepadamu sebagai kebaikan, oleh karena persahabatanmu dengan orang yang jauh lebih rendah akhlaknya darimu.”

Nasehat beliau selanjutnya: “Jangan berteman dengan orang yang tingkah lakunya tidak bisa membangkitkan semangat untuk taat kepada Allah, dan kata-katanya tidak bisa menunjukkan engkau ke jalan Allah.”

Inilah pentingnya bersahabat dengan orang yang berakhlak baik (mulia) sebab persahabatan itu saling mempengaruhi dan mempercayai.


Panduan Memilih Pasangan Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits

Jodohmu Surgamu Nerakamu: Panduan Memilih Pasangan Hidup Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Pasangan hidup (jodoh) yang baik akan membahagiakan kehidupan seorang mukmin, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Sebaliknya, pasangan hidup (jodoh) yang buruk akan membawa kesengsaraan bagi kehidupan seseorang di dunia ini, sedangkan di akhirat kelak bahkan lebih sengsara lagi karena pasangan hidup yang buruk itu bisa menyeretnya ikut terlempar ke dalam api neraka. Na’udzubillahi mindzalik! Lalu, bagaimanakah cara mengetahui watak asli calon pasangan hidup? Bagaimanakah cara mengenali apakah calon pasangan hidup itu membawa kebahagiaan atau hanya mendatangkan kesengsaraan saja? Bagaimanakah cara agar tidak salah pilih pasangan hidup?  Baca Selengkapnya…


Referensi:

Al-Salma, Abu Abdurrahman. 2002. Berbagi Cinta dengan Para Sufi (Terjemahan Adab Al-Shuhbah). Penerbit Hikmah. Jakarta.

As-Sakandary, Ibnu ‘Atha’illah. 2005. Terjemah Syarah Al-Hikam oleh Musa Turoichan Al-Qudsy. Penerbit Ampel Mulia. Surabaya.


Tips Menghadapi Tukang Kepo

Hits: 17959

0 comments on “Memilih Teman dalam IslamAdd yours →

Leave a Reply