30 Manfaat Berzikir kepada Allah

30 Keutamaan Berzikir kepada Allah SWT. Berzikir (mengingat Allah) merupakan salah satu ibadah yang paling utama. Dalam zikir terdapat banyak fadilah (manfaat dan keutamaan). Akan tetapi, keutamaan berzikir kepada Allah SWT hanya akan dapat drasakan apabila zikir itu dilakukan dengan hati ikhlas, semata-mata untuk Allah, tanpa ada unsur riya’ (pamer ibadah) di dalamnya.


Zikir seperti apa yang memiliki manfaat dan keutamaan itu?

Zikir yang ikhlas karena Allah selain harus bebas dari unsur riya’ (pamer ibadah), juga harus bersih dari unsur-unsur lain yang bukan karena-Nya. Unsur-unsur lain itu misalnya, untuk kekebalan, ilmu-ilmu kedigdayaan, pangkat, jabatan, dan sejenisnya. Contohnya: “Aku niat berzikir sekian ribu kali agar tubuhku menjadi kebal, tak mempan ditembus senjata tajam.” Atau “Aku niat mengamalkan zikir ini agar aku dikaruniai kewibawaan sehingga orang-orang menurut kepadaku, dan agar pangkat jabatanku segera naik.”

Perlu diketahui, zikir yang mengandung unsur riya’ (pamer ibadah) dan unsur-unsur lain seperti contoh di atas adalah zikir yang sia-sia belaka dan tidak mendatangkan keridaan Allah. Zikir yang seperti itu tidak akan dapat dirasakan buah, manfaat atau keutamaannya, kecuali hanya menambah keletihan, kepayahan, dan semua itu hanya sia-sia belaka.

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.” (Q.S. Al-A’raf: 205)

Syekh Ali al-Mursafi dalam kitab Minhajaz-Salik ilaa Asyroofil Masaalik menjelaskan bahwa fadilah (keutamaan dan manfaat) zikir itu ada 30 macam. Nah, apa sajakah 30 keutamaan berzikir kepada Allah SWT berdasarkan kitab tersebut:

Pertama, mengikuti perintah Allah untuk berzikir (mengingat-Nya) seperti disebutkan dalam Alquran, “Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Berzikirlah kepada Allah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Q.S. Al-Ahzab: 41 – 42)

Kedua, Allah akan mengingat orang yang berzikir kepada-Nya (dengan hati ikhlas tanpa ada unsur riya’). Hal ini sesuai dengan firman-Nya, “Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah: 152)

Allah berfirman dalam sebuah hadis Qudsi, dari Abu Hurairah ra, bahwa rasulullah SAW bersabda:  “Allah Ta’ala berfirman, “Aku menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku. Apabila ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di hadapan khalayak ramai, Aku akan mengingatnya di hadapan khalayak yang lebih baik dari khalayaknya. Apabila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil.” (HR. Bukhari)

Ketiga, hamba yang senantiasa berzikir (dengan ikhlas) akan mendapatkan keridaan Allah.

Keempat, Allah akan memuliakan ahli zikir yang ikhlas.

Kelima, terjaminnya anggota badan untuk selalu digunakan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat bagi ahli zikir yang ikhlas.

Keenam, dekatnya malaikat kepada para ahli zikir yang ikhlas. Para malaikat yang bertugas untuk mendatangi para ahli zikir akan sangat gembira apabila mengetahui ada hamba Allah yang berzikir. Mereka, para malaikat itu, akan mendatangi dan ikut bergabung dengan orang-orang yang sedang berzikir (dengan hati yang ikhlas).

Ketujuh, dekatnya Allah kepada hamba yang sedang berzikir (dengan hati yang ikhlas/tidak riya’).

Kedelapan, malaikat Hafadhoh akan segera menuliskan segala amal kebaikan orang yang berzikir (dengan ikhlas).

Kesembilan, setan lari menjauh dari orang yang berzikir (dengan ikhlas).

Kesepuluh, zikir (yang ikhlas) akan menguatkan keimanan dan kecintaan seorang hamba kepada Allah.

Kesebelas, zikir (yang ikhlas) akan menghilangkan sifat munafik dalam diri seorang hamba.

Kedua belas, hamba yang senantiasa berzikir (dengan ikhlas) akan dijaga oleh Allah dari godaan setan.

Ketiga belas, hamba yang senantiasa berzikir (dengan ikhlas) akan dijauhkan dari neraka.

Keempat belas, Allah akan memberi karunia besar yang tidak diberikan kepada hamba yang lalai dari zikrullah (zikir kepada Allah), yaitu Alllah akan menjadikan hati seorang hamba yang senantiasa berzikir (dengan ikhlas) selalu ingat kepada-Nya, dan tidak dijadikan sebagai orang yang lupa kepada-Nya.

Kelima belas, hamba yang senantiasa berzikir (dengan ikhlas) hatinya akan dijadikan terang benderang oleh Allah karena cahaya zikirnya.

Keenam belas, Allah selalu berada bersama-sama dengan hamba yang senantiasa berzikir (dengan ikhlas) kepada-Nya. Allah yang menjadi teman duduknya.

Ketujuh belas, hati seorang hamba yang senantiasa berzikir (dengan ikhlas) akan dilindungi oleh Allah dari bisikan-bisikan tercela. Hatinya akan selalu ingat dan terpaut kepada Allah sehingga selamat dari bisikan-bisikan tercela.

Kedelapan belas, pintu langit akan dibuka untuk tempat naiknya malaikat yang membawa amalan zikir (dari yang ikhlas) untuk disampaikan kepada Allah.

Kesembilan belas, seluruh makhluk dan tempat di Bumi yang dipakai untuk berzikir kepada Allah akan mendengar zikir itu (zikir yang ikhlas), dan seluruhnya akan membanggakan dirinya kepada seluruh tempat yang tidak dipakai untuk berzikir.

Kedua puluh, zikir (yang ikhlas) akan melembutkan dan mengkhusyukkan hati seorang hamba. Oleh karenanya, seorang ahli zikir (yang ikhlas) akan memiliki hati yang lembut, jauh dari sifat bengis, culas, dan jahat.

Kedua puluh satu, zikir yang dilakukan dengan hati ikhlas tanpa ada unsur riya’ (pamer ibadah) dapat meleburkan dosa dan keburukan.

Kedua puluh dua, zikir yang dilakukan dengan hati ikhlas tanpa ada unsur riya’ (pamer ibadah) akan menghasilkan buahnya, yaitu ketenangan dan kedamaian hati. Hal ini seperti disebutkan dalam firman-Nya: “Dan orang-orang kafir berkata,Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk orang yang bertobat kepada-Nya,” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (bizikrillaah). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (zikrillaah) hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d: 27 – 28)

Kedua puluh tiga, malaikat pencatat amal buruk akan bisa beristirahat. Pada saat seorang hamba berzikir (dengan ikhlas tanpa riya’), maka malaikat akan beristirahat dari menuliskan catatan amal buruk si hamba itu.

Kedua puluh empat, amalan zikir yang dilakukan dengan hati ikhlas tanpa ada unsur riya’ (pamer ibadah) dapat menjadi tambahan amal-amal saleh untuk membantu meringankan beratnya hisab (perhitungan amal) di hari kiamat kelak.

Kedua puluh lima, zikir (yang ikhlas) merupakan salah satu ibadah yang utama seperti halnya, ibadah haji, berjuang di jalan Allah, dan bersedekah.

Kedua puluh enam, Allah akan memberikan karunia yang lebih banyak kepada orang yang berzikir (dengan ikhlas) walaupun orang yang berzikir itu tidak memohon apa-apa, dibandingkan dengan orang yang hanya sibuk memohon (berdoa) tetapi tidak dibarengi dengan zikir.

Kedua puluh tujuh, hati seorang hamba yang senantiasa berzikir (dengan ikhlas) itu selalu diliputi rahmat, diberi sakinah dan berkah, serta senang hatinya, tidak dilanda gundah dan gelisah.

Kedua puluh delapan, orang yang membiasakan diri senantiasa berzikir (dengan ikhlas) sepanjang hari baik pada waktu duduk, berdiri, berbaring, maupun dikala sedang beraktivitas, akan diampuni segala dosanya.

Kedua puluh sembilan, ketika seorang hamba berzikir (dengan ikhlas), maka ada seruan dari langit: “Hai orang yang berzikir, bangkitlah, sebenarnya Aku telah mengganti segala amal burukmu dengan amal baik dan Aku mengampuni segala dosamu.”

Ketiga puluh, di hari kiamat nanti, para ahli zikir (dengan hati ikhlas) tidak akan merasa takut sedikit pun disaat manusia sedang dalam kegoncangan dan kebingungan yang dahsyat; mereka juga akan duduk di atas mimbar yang terbuat dari cahaya dan mendapat karamah Allah.

Kisah hikmah yang berkaitan dengan keutamaan berzikir kepada Allah SWT.

Dikisahkan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT memiliki malaikat-malaikat yang bertugas turun ke Bumi untuk mendatangi orang-orang yang berzikir kepada-Nya. Apabila mereka menjumpai ada orang-orang yang sedang berzikir kepada Allah, malaikat-malaikat itu ikut bergabung dengan orang-orang tersebut. Jumlah malaikat-malaikat itu tak terhitung, sehingga malaikat-malaikat itu saling menutupi satu sama lain dengan sayap-sayapnya, sampai sayap-sayap itu menutupi tempat orang-orang yang berzikir itu hingga ke langit. Apabila orang-orang itu telah selesai berzikir, maka malaikat-malaikat itu pun kembali naik ke langit.

Sesampainya malaikat-malaikat itu di langit, Allah Azza Wa Jalla bertanya, “Dari manakah kalian semua?”

Para malaikat itu menjawab, “Hamba sekalian baru saja kembali dari tempat hamba-Mu yang ada di Bumi, Ya Rabb.”

Allah Azza Wa Jalla kembali bertanya, “Bagaimanakah keadaan hamba-hamba-Ku itu ketika kalian tinggalkan?”

Para malaikat itu kemudian menjawab, “Mereka sedang berzikir kepada-Mu, ya Allah. Mereka sedang bertasbih, bertahlil, bertahmid, dan memuliakan-Mu. Mereka juga bersyukur kepada-Mu, ya Allah.”

Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Apakah mereka telah melihat-Ku?”

Para malaikat menjawab, “Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.”

Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?”

Para malaikat menjawab, “Seandainya mereka melihat-Mu, niscaya mereka akan lebih beribadah kepada-Mu dan lebih berzikir kepada-Mu.”

Allah Azza Wa Jalla pun bertanya lagi, “Apa yang mereka mohonkan?”

Malaikat-malaikat itu menjawab, “Mereka memohon agar diizinkan masuk ke dalam surga-Mu, ya Rabb.”

Kembali, Allah Azza Wa Jalla bertanya, “Apakah hamba-hamba-Ku itu sudah melihat surga-Ku?”

“Belum, ya Rabb.”, jawab para malaikat itu.

“Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”, firman Allah Azza Wa Jalla.

“Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih loba terhadapnya, lebih giat meminta, dan lebih gemar terhadapnya.”, jawab para malaikat itu.

“Lalu, apalagi yang mereka mohonkan?”, firman Allah Azza Wa Jalla lagi.

“Mereka memohon kepada-Mu agar mereka selamat dari neraka.”

“Apakah hamba-hamba-Ku itu sudah melihat bagaimana neraka-Ku?”, kembali Allah Azza Wa Jalla berfirman.

Para malaikat itu pun menjawab, “Belum, ya Rabb.”

“Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”, Allah Azza Wa Jalla bertanya.

“Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih lari sejauh-jauhnya dan sangat takut.”, jawab para malaikat itu.

Allah Azza Wa Jalla kembali bertanya, “Apalagi permohonan hamba-hamba-Ku itu?”

“Mereka memohon ampunan-Mu, ya Rabb.”, jawab para malaikat itu.

Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Saksikanlah olehmu sekalian, bahwa Aku mengampuni mereka semua dan mengabulkan semua permohonan mereka.”

Beliau SAW bersabda: “Salah satu malaikat itu berkata, “Di antara mereka ada Fulan yang bukan dari golongan mereka (ahli zikir itu). Kedatangannya hanya karena ada keperluan.”

Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Mereka teman-teman duduk, dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan celaka.” (HR. Bukhari)

Demikianlah pembahasan mengenai 30 keutamaan berzikir kepada Allah SWT berdasarkan kitab Minhajaz-Salik ilaa Asyroofil Masaalik karya Syekh Ali al-Mursafi. Semoga bermanfaat.

Hits: 203

Leave a Reply