Durmanggala dalam Membangun Rumah Berdasarkan Asta Kosala Kosali

Pada artikel saya sebelumnya, saya telah menulis tentang Cara Memilih Tanah untuk Rumah Berdasarkan Asta Kosala Kosali. Kali ini saya akan menulis tentang tata cara mendirikan bangunan rumah berdasarkan prinsip Asta Kosala Kosali. Dalam budaya tradisional masyarakat Bali, sebuah rumah yang dibangun tanpa memperhatikan prinsip Asta Kosala Kosali diyakini akan membawa kadurmanggalan (isyarat/tanda buruk atau kemalangan). Durmanggala dalam bangunan rumah menurut budaya tradisional masyarakat Bali diyakini berasal dari bahan atau material bangunan yang tidak baik sehingga dipercaya akan mendatangkan bahaya.  Berikut ini adalah bahan (material) bangunan yang dalam budaya tradisional Bali dipercaya akan mendatangkan kadurmanggalan.

  1. Anepiluwah: Kayu untuk bahan bangunan rumah yang ditebang dari pepohonan yang tumbuh di tepian sungai. Apabila sebuah rumah menggunakan kayu seperti ini, maka dipercaya akan mendatangkan berbagai penyakit yang berhubungan dengan cairan (kelebihan cairan) kepada para para penghuninya.
  2. Asurigrha: Hampir sama seperti Anepiluwah, bangunan rumah ini menggunakan kayu yang ditebang dari pepohonan yang tumbuh di tepian kolam/waduk/danau. Apabila sebuah rumah menggunakan bahan bangunan kayu seperti ini, maka dipercaya bahwa penghuninya akan sering dilanda kekalutan, kekacauan, dan kegoncangan pikiran.
  3. Bayukabancut: Bangunan rumah yang bahan kayunya didapatkan dari pepohonan yang tumbang karena angin puting beliung. Apabila kayu seperti ini digunakan sebagai material untuk bangunan rumah, maka diyakini dapat membuat penghuninya sering sakit, lemas, dan pingsan secara mendadak.
  4. Bhutagrha: Bangunan rumah yang menggunakan kayu yang ditebang dari pepohonan yang tumbuh di area pekuburan/makam. Apabila sebuah rumah menggunakan material kayu seperti ini, diyakini akan membuat penghuninya mengalami hal-hal aneh yang berhubungan dengan metafisika atau magis.
  5. Bhutangandang: Bangunan rumah yang menggunakan kayu yang ditebang dari pepohonan yang tumbuhnya melintangi jalan. Apabila sebuah rumah menggunakan material kayu seperti ini, dipercaya akan mendatangkan berbagai kesialan, kemalangan, dan penyakit kepada para penghuninya.
  6. Bhutasungsang: Bangunan rumah yang bahan/material kayunya berasal dari pohon yang jatuhnya terbalik ketika ditebang (pada saat tumbang karena ditebang jatuhnya pada posisi terbalik, yaitu bagian bawah yang ditebang berada di atas, sedangkan bagian pucuk-pucuk rantingnya berada di bawah). Apabila kayu seperti ini digunakan sebagai bahan bangunan rumah, maka diyakini dapat mendatangkan banyak permasalahan karena pikiran penghuninya terbalik-balik.
  7. Brahmasesa: Bangunan rumah yang bahan/material bangunannya berasal dari material sisa-sisa kebakaran. Menurut budaya tradisional Bali, sebuah rumah yang menggunakan material bangunan seperti ini dipercaya dapat mendatangkan kesengsaraan dan keprihatinan bagi kehidupan penghuninya.
  8. Candragni: Bangunan rumah yang menggunakan material kayu yang ditebang dari pepohonan yang tumbuh di tempat pemujaan keluarga (pamerajan). Penggunaan material kayu seperti ini dipercaya akan mendatangkan kesusahan dan kesukaran rezeki untuk penghuninya.
  9. Cindagapati: Bangunan rumah yang menggunakan material kayu yang berasal dari pohon pada saat ditebang kemudian putus, namun batang itu masih tetap bertumpu pada batang pokoknya (yang menancap di tanah) ketika jatuh ke tanah. Penggunaan material kayu seperti ini untuk bangunan rumah dipercaya menyebabkan berbagai penyakit fisik dan mendatangkan bahaya sakala-niskala bagi penghuninya.
  10. Gniangabar: Bangunan rumah yang material kayunya berasal dari pohon yang masih berdiri tegak tetapi pohon itu sudah mati tanpa sebab yang jelas. Apabila sebuah bangunan rumah menggunakan material kayu seperti ini, dalam budaya tradisional Bali dipercaya dapat membuat penghuninya terserang penyakit panas yang mematikan.
  11. Karnasula: Bangunan rumah yang material kayunya berasal dari pohon yang pada saat ditebang mengeluarkan suara nyaring seperti bunyi kentongan. Sebuah bangunan rumah yang menggunakan material kayu seperti ini, menurut budaya tradisional Bali, dipercaya akan membuat penghuninya terkena bencana karena fitnah.
  12. Larapati: Bangunan rumah yang material kayunya berasal dari sisa-sisa kayu atau pepohonan tumbang akibat bencana tanah longsor. Apabila kayu seperti ini digunakan sebagai material bangunan rumah, maka dipercaya akan mendatangkan berbagai kemalangan dan penyakit untuk penghuninya.
  13. Ngayutdana: Bangunan rumah yang material kayunya berasal dari pepohonan yang hanyut baik itu oleh aliran sungai maupun akibat bencana banjir. Apabila kayu seperti ini digunakan sebagai material bangunan rumah, maka dipercaya akan mendatangkan kesusahan, penyakit yang sulit diobati, dan keborosan hidup bagi penghuninya.
  14. Ngempelwe: Bangunan rumah yang material kayunya berasal dari pohon yang tumbah melintangi sungai. Bangunan rumah yang menggunakan material kayu seperti ini dipercaya akan membuat penghuninya terserang penyakit akibat kelebihan cairan.
  15. Nguripwangke: Bangunan rumah yang material bangunannya berasal dari sisa-sisa bangunan yang roboh tanpa sebab yang jelas. Bangunan rumah yang menggunakan material yang berasal dari peristiwa seperti ini dalam budaya tradisional Bali dipercaya dapat mendatangkan berbagai penderitaan, kemalangan dalam pekerjaan, dan penyakit lemas yang mematikan.

Sumber :

Dwijendra, Ngakan Ketut Acwin. 2008. Arsitektur Rumah Tradisional Bali Berdasarkan Asta Kosala Kosali. Bali. Udayana University Press. hlm. 64 – 70.

Hits: 484

0 comments on “Durmanggala dalam Membangun Rumah Berdasarkan Asta Kosala KosaliAdd yours →

Leave a Reply